Saifanny melangkah menyisuri interior kamar tamu kediaman Manggala, mengedarkan pandangan dengan binar mengagumi yang ia tahan sedemikian rupa. Sebagai wanita yang tumbuh dan lama berinteraksi di lingkaran elit, ia paham betul betapa keluarga Manggala mematok standar dekorasi yang tinggi—serba elegan, simetris, namun menyimpan aura dingin yang intimidatif. Di tengah kesibukan Saifanny mengamati tiap sudut ruangan, Syahdan mendadak menarik ujung lengan bajunya. Anak laki-laki itu menatap ibunya dengan sepasang mata bulat yang dipenuhi keraguan. "Ma, kita nginep di sini? Gak di hotel?" Tanya Syahdan pelan. Pertanyaan ganjil itu sebenarnya sudah mengendap di kepalanya sejak mereka meninggalkan area waterpark. Saifanny berjongkok sedikit, mengulas senyum menenangkan seraya mengusap pundak putranya. "Iya, Sayang. Sementara kita nginep di sini," jawab Saifanny singkat, mencoba menyamarkan gemuruh cemas di dalam dadanya. "Kalian bisa menginap selama mungkin di sini," potong sebuah s
Ler mais