Aku mendekatkan tubuhku pada tubuh Rio yang sudah siap menangkapku di atas tubuhnya, kedua tangan lebar itu masih terbuka bebas tanpa beban, kutatap roman wajah rupawan pemuda ganteng ini kian menghangat, aku menghela napas tanpa bersuara, kurasakan tubuh kami saling menyatu, dada bidang Rio seolah mampu melindungiku dari serangan orang-orang jahat di luar sana, kurasakan tangan Rio menepuk-nepuk pelan pungungku, dalam dekapan Rio aku menahan isak tangisku, sudah berapa kali aku dibuat menangis oleh Affal karena mengingat masa lalu yang tak bisa kuubah dan entah sampai kapan aku terus merasakan kegetiran dari cinta tulusku padanya. "Kau boleh menangis, Alba." Mendengar Rio berbicara demikian, hatiku melemah, isak tangisku yang tadi sempat bisa kutahan, kini pecah di dalam dekapan hangat ini. Rio mengusap-usap pungungku, dia tahu benar jiwa rapuhku butuh saluran energi positif, "Tenanglah, tenang, aku bersamamu." Beberapa kali kudengar Rio merapalkan kalimat itu dengan nada lir
Read more