Dalam mode video call tersebut, Rio tampak melempar senyum sesaat, dia menunjukkan padaku isi kotak bekal buatanku dan memamerkannya, “Alba, kau membuat ini semua. Wow!” seru Rio kegirangan seperti baru saja mendapatkan kejutan ulang tahun atau menang lotre. Aku hanya bisa tertawa kecil di depan layar ponselku. “Jangan berlebihan, makanlah.”Rio mengambil satu potong roti sandwich isi daging itu lalu memakannya, begitu gigitan pertama dia kembali berkometar, “Uhm, enak banget ini Alba. Ibu-ibu di sini mau juga nggak!” “Waduh, jangan Pak Rio. Nanti Bu Alba bisa marah.”Aku mendengar sahut-sahutan di latar belakang telepon kami, “Kan, kan mulai lagi. Udahlah, bapak makan saja, lagian mereka juga enggak bakal doyan masakan saya.”“Wuts, jangan gitu. Makanan seenak ini kok dibilang enggak enak sama chefnya.”“Bapak ngapain sih ngajakin saya video call di tempat kerja, cuma buat nemenin makan bekal, terang-terangan lagi.” Keluhku memberinya tatapan kesal sekaligus was-was. “Udah saya bi
더 보기