Aku menoleh, "Pergilah, jangan khawatir." Rio kembali mendekatiku, mendekapku sekali lagi. "Saya akan mengirimimu lokasinya begitu nanti tiba." "Ehm, baiklah. Pergilah sekarang," kataku mencoba bersikap santai, namun aku dapat menangkap seraut wajahnnya yang tidak baik-baik saja, apa Rio merasakan sepertiku, menjadi posesif seperti saat ini, bahkan pada hal-hal yang diriku tak berhak ikut campur, dia memberiku celah untuk masuk kedalam hubungan aneh, setelah hubungaan kegilaanku bersama Affal. "Kau harus pergi bersamaku, Alba." Sekali lagi, Rio menuntutku. "Aku akan menyusul nanti, pergilah Mas Rio, aku baik-baik saja, bukankah pasal 1b sudah jelas kita pahami, kau boleh berkencan dengan selain diriku." Rio menghela napas, sebelum mulutku menjelaskan dia juga berpikir demikian, sebab tidak mau melukai siapapun, namun melihat kondisiku saat ini rasanya Rio tidak tega padaku. Dia meraih wajahku lagi, dengan gerakan pelan tapi pasti, mendaratkan bibirnya di atas bibirku,
Baca selengkapnya