Rio memelukku dari belakang, memberiku kecupan kecil di sudut leherku, aku menatapnya dari dalam cermin, dia tampak tersenyum puas, "Udah cantik wangi banget kamu sayang." "Hemm, terima kasih. Mas juga ganteng kok." Kini aku mendongakan kepalaku, menantang bola mata meneduhkan Rio, namun pandanganku mendadak gelap, saat pemuda ganteng ini berhasil mendaratkan ciuman singkat di atas bibirku. Mataku terbuka, Rio melepaskan pelukan. Dia berjalan ke arah sofa, tempat di mana ransel kami tergeletak lantas menggendongnya "Baiklah, ayo berangkat sayang!" serunya tersenyum lebar padaku. Aku mendadak salah tingkah, kutatap sekilas cermin di depanku memastikan lipstikku tidak berantakan, tanpa lagi berbicara, aku menenteng ranselku. Ketika keluar apartemen, tangan Rio sama sekali tidak melepaskan gengamannya dari tanganku pun pada saat kami berboncengan, dia melingkarkan kedua tanganku di atas pingangnya. "Pegangan yang erat ya sayang!" serunya menatapku dari sudut kaca spion.
Read more