Aku menguap, mulai merasa kedua mataku berat dan sedikit panas, rasa kantuk menyerang tubuhku. "Aku akan melanjutkan cerita sesuai kemauanmu Mas Rio, tapi sepertinya aku butuh dopamine lagi." "Kamu tidak ingin kita bercinta lagi, kan?" Aku menggeleng, "Aku ingin kopi buatanmu." Rio bangkit dari rebahnya duduk di sampingku, "Baiklah , katakan di mana kamu menyimpan kopimu?" "Mas Rio ambil aja, ada di rak paling ujung kiri atas." Tunjukku mengarah ke depan dapur minimalisku. "Oke, nona. Mana ada gadis semanja kamu, mau cerita manatan kekasih aja, minta dibikinin kopi." "Ya mau apa enggak, Mas? Kalau mager, kita tidur aja." "Eeh, jangan gitu dong, masak ngambek." Rio segera berdiri, dia tahu intruksiku dengan baik sehingga aku tidak harus menerima kejahannya lagi. Aku membuang selimut pemberian Rio dan menggantinya dengan memakai kembali baju kerjaku yang sengaja kulepas tadi, tapi tiba-tiba aku ingin buang air kecil, ya sudah akhirnya aku bangkit dari rebahan d
Read more