Share

BAB 2. Masakan Mama

Author: Celoteh Asta
last update publish date: 2026-02-19 14:58:57

Humey mencengkeram ujung gamisnya hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu, bayangan piring pecah dan bentakan Zayyan sudah menari-nari di pelupuk matanya.

Ia melangkah turun dengan hati-hati, memastikan tidak ada debu yang terlewat atau lantai yang masih basah. Setiap detik terasa seperti ancaman.

Ceklek.

Pintu utama terbuka. Humey menahan napas, bersiap untuk menunduk dan memohon maaf jika Zayyan mulai meluapkan amarahnya.

Namun, sosok yang berdiri di balik pintu bukanlah pria berjas rapi dengan sorot mata tajam yang ia takuti.

Seorang pria paruh baya berseragam. Ia adalah supir pribadi Mama yang tengah berdiri di sana sambil menenteng tas belanjaan besar dengan senyum ramah.

"Assalamualaikum, Neng Humey," sapa pria itu sopan.

Humey mematung sejenak, lalu embusan napas lega yang panjang terlepas dari bibirnya. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Waalaikumsalam, Pak. Astaghfirullah, bikin kaget saja," ucap Humey dengan suara bergetar.

Supir itu tertawa kecil, menyodorkan bungkusan tersebut. "Ini Neng, titipan dari Ibu. Katanya tadi Neng telepon, terus Ibu langsung masak dimsum kesukaan Neng."

Humey menerima bungkusan itu dengan kedua tangannya. Aroma harum masakan khas mertuanya langsung menyeruak, membawa sedikit ketenangan di tengah badai batinnya hari ini.

"Ya ampun, bilang ke Mama ya Pak, terima kasih banyak. Harusnya tidak perlu serepot ini."

"Sama-sama, Neng. Ibu bilang kalau Neng butuh apa-apa, jangan sungkan telepon lagi," jawab sang supir sebelum pamit undur diri.

Humey menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia segera berlari menuju dapur, menyimpan bungkusan itu di meja marmer.

Namun, saat ia membuka bungkusan itu untuk mencium aroma masakan yang menyejukkan hati, matanya tertuju pada sebuah kartu kecil yang terselip di balik plastik wadah.

“Untuk menantuku yang sabar, jangan lupa makan ya. Mama tahu kamu sering melupakan dirimu sendiri.”

Air mata Humey jatuh lagi. Begitu kontras perhatian Mama dengan perlakuan Zayyan.

Humey mengambil satu dimsum, namun belum sempat ia menyentuhkannya ke lidah, perhatiannya beralih ke ponsel yang tergeletak di meja makan.

Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan pesan misterius yang tadi masuk.

“Aku tahu apa yang sedang terjadi padamu, Humey. Kita perlu bicara.”

Humey menatap dimsum di tangannya, lalu menatap layar ponsel itu bergantian. Suasana rumah yang tadinya terasa tenang karena kiriman makanan, kini berubah menjadi penuh ketegangan.

Siapa yang mengirim pesan itu? Apakah itu jebakan Zayyan untuk mengujinya, atau benar-benar ada seseorang di luar sana yang melihat penderitaannya?

Dengan tangan gemetar, Humey meletakkan dimsum itu kembali. Keputusan besar harus ia ambil saat ini juga.

Ia memutuskan tak memperdulikan pesan tersebut.

Semenjak pindah ke rumah Zayyan, Humey telah sepenuhnya mengubah hidupnya.

Ia tak pernah melewatkan pekerjaan rumah sedikit pun.

Mulai dari mengepel lantai, menyapu halaman yang luas, hingga mengurus setiap sudut rumah, ia lakukan sendiri.

Asisten rumah tangga yang ada hanya diperbolehkan membantu sedikit, sisanya adalah tanggung jawab mutlak Humey.

Ia hanya akan absen dari tugasnya jika tubuhnya benar-benar tumbang oleh rasa sakit.

Namun, alih-alih mendapatkan perhatian, ia justru harus menelan makian Zayyan yang menyebutnya pemalas.

Padahal, dulu di rumah orang tuanya, Humey tak pernah tersentuh pekerjaan kasar seperti itu.

Satu-satunya keahlian yang ia asah hanyalah memasak.

Sesuai pesan Uminya, Humey harus menjadi istri yang pintar memanjakan lidah suami.

Ia menguasai resep dari masakan tradisional nusantara hingga hidangan mancanegara yang rumit.

Sayangnya, semua jerih payahnya seolah tak berarti apa-apa.

Zayyan adalah satu-satunya orang yang tak pernah sudi menyentuh masakan Humey.

Setiap kali hidangan tersaji, suaminya selalu menemukan celah untuk mencela, seolah ada yang salah dengan setiap gram bumbu yang ia gunakan.

Siang itu, Humey memilih untuk mengutamakan kewajibannya kepada Sang Pencipta terlebih dahulu.

Ia menunaikan sholat Dzuhur dengan khusyuk, menumpahkan segala sesak dan lelah di atas sajadah.

Hanya setelah melipat mukena dan zikir yang singkat, ia baru beranjak untuk memulai rutinitas membereskan rumah.

Setelah menyantap sedikit dimsum, hanya agar tubuhnya tak benar-benar tumbang. Humey memilih beristirahat sejenak di kamar.

Sisa-sisa energi yang ia miliki harus ia simpan untuk pertempuran sesungguhnya di sore hari.

Begitu azan Ashar berkumandang, ia segera bangkit.

Setelah menunaikan kewajibannya kepada Tuhan, ia melangkah pasti menuju dapur.

Ia harus memasak untuk makan malam Zayyan.

Meskipun sudah ada dimsum kiriman Mama yang aman dan lezat, ia tak berani mengambil risiko.

Bagaimana jika meja makan kosong saat Zayyan pulang?

Ketakutan itu sudah mendarah daging. Ia tak ingin mendengar bentakan atau cacian yang merobek hatinya lagi.

Baginya, makian Zayyan adalah pisau yang selalu berhasil menemukan luka paling dalam di batinnya.

Padahal, bukankah seharusnya pria itu adalah sosok yang memberinya cinta dan kasih sayang?

Tepat pukul lima sore, deru mesin mobil Zayyan memecah kesunyian rumah.

Humey segera mematikan kompor, merapikan pakaiannya, dan berdiri di dekat pintu.

Jantungnya berdegup kencang, namun ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

Zayyan melangkah masuk dengan raut wajah yang lelah dan dingin.

"Assalamualaikum, Mas," sapa Humey lembut, mencoba menetralkan suasana.

Zayyan tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik Humey.

Setelah istrinya salam rayyan berkata, "bau bawangg kamu, gak mandi apa?"

Hati Humey menciut mendengar ejekan suaminya.

Padahal, ia baru saja bergelut dengan panasnya kompor demi menyajikan hidangan terbaik untuk Zayyan.

"Belum sempat, Mas. Baru saja selesai masak dan dengar suara mobil Mas pulang. Habis ini aku mandi," balas Humey dengan suara bergetar.

"Ya sudah, mandi sana biar tidak bau! Kalau masih tercium bau masakan, jangan harap kamu boleh makan di meja makan!" bentak Zayyan.

"I-iya, Mas," jawab Humey dengan takut.

"Pergi sana, dasar udik!" sarkas Zayyan.

Humey segera beranjak. Ia tidak ingin mendengar kalimat pedas lainnya.

Bukan hanya karena hatinya sakit, tapi ia takut jika ia terus berada di sana, dosa suaminya akan bertambah karena terus mencaci-maki dirinya.

Setelah mandi, Humey turun dan segera menyiapkan meja makan.

Tak lama kemudian, Zayyan datang dan langsung duduk, menunggu dilayani bak seorang raja.

Dengan sigap, Humey menyajikan nasi dan lauk pauk.

Zayyan mulai makan dalam diam, sementara Humey berdiri di sampingnya dengan perasaan cemas, menanti komplain yang biasanya selalu ada.

Namun, hingga pertengahan makan, Zayyan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Dengan ragu, Humey akhirnya menyendok makanan ke piringnya sendiri.

Seperti biasa, Zayyan menyisakan makanannya. Humey hanya bisa tersenyum getir dalam hati; bagi Humey, sisa makanan itu sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perutnya yang sedari tadi meronta.

Saat Zayyan hendak berdiri, Humey memberanikan diri menahannya. "Tunggu, Mas."

Zayyan menatapnya dengan tatapan tajam. "Apalagi sih?"

"Mama tadi kirim dimsum. Kamu mau? Untuk makanan penutup," tawar Humey dengan senyum kecil penuh harap.

Seketika, senyum itu lenyap.

Zayyan menarik rambut Humey dengan kasar hingga jilbabnya tersingkap dan kepalanya tersentak ke belakang.

"Ada apa, Mas?!" rintih Humey, air matanya tak lagi terbendung.

"Kamu tuh ya, ada saja yang bikin aku emosi! Kamu ngadu apa ke Mama? Kamu bilang kalau aku nggak suka masakanmu, hah?!" bentak Zayyan sambil mengencangkan cengkeramannya di kepala Humey.

"Aku nggak ngadu apa-apa, Mas. Aku cuma tanya resep," isak Humey.

"BOHONG!"

Zayyan mendorong tubuh Humey hingga ia terjerembab ke lantai yang dingin.

Zayyan kemudian berjongkok, mencengkeram dagu Humey dengan kuat, memaksa wanita itu menatap matanya yang dipenuhi amarah.

"Hey, udik! Nggak mungkin Mama tiba-tiba kirim dimsum kalau bukan kamu yang mengadu dan bilang masakanmu yang kayak sampah itu nggak enak!"

Zayyan mengencangkan cengkeramannya, membuat dagu Humey terasa mau patah. "Pasti kamu mengadu sambil nangis-nangis ke Mama, kan? Jawab, hah!"

"Sakit, Mas," lirih Humey dengan wajah bersimbah air mata.

"Makanya, lain kali jangan mengadu ke Mama! Untung dia tidak memarahiku. Awas saja kalau sampai Mama marah dan tahu semuanya, habis kamu!"

Zayyan mendorong kepala Humey hingga terbentur lantai, lalu beranjak pergi begitu saja.

Humey terdiam di lantai, menatap punggung suaminya yang menjauh dengan tatapan kosong.

Dalam suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Bahkan untuk bersikap biasa saja di hari pernikahan kita, kau tak mampu, Mas."

Humey merasa jiwanya benar-benar hancur.

Hidupnya telah berubah 180 derajat setelah menikah. Banyak orang berkata pernikahan itu indah, namun mengapa ia justru merasa terjebak dalam neraka?

Jangankan memimpikan pernikahan seindah kisah Abah dan Uminya, sekadar berharap untuk dihargai oleh Zayyan saja, rasanya sungguh mustahil.

Humey mematung di lantai ruang makan yang dingin. Tiba-tiba, ia mendengar langkah kaki Zayyan yang kembali mendekat. Pria itu lupa mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di atas meja.

Humey buru-buru menyembunyikan wajahnya yang lebam, tapi matanya tak sengaja tertuju pada sebuah dokumen yang terjatuh dari saku jaket Zayyan. Di sana, tertulis jelas dengan huruf kapital: SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN.

Di bagian bawah, sudah ada tanda tangan Zayyan, namun kolom untuk tanda tangan Humey masih kosong.

Humey menahan napas. Ternyata, selama ini Zayyan memang berencana menendangnya pergi, tapi dengan cara yang jauh lebih kejam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 25. Di Balik Pintu Kayu

    Namun, rasa lega yang sempat menyelimuti hati Humey sesaat setelah melihat foto gedung itu ternyata tidak bertahan lama di dalam benaknya. Sebab justru sekarang, rasa penasarannya membuncah jauh lebih besar dan menyesakkan dari sebelumnya.Berbagai pertanyaan berkecamuk hebat tanpa bisa dicegah. Mengapa Aluna hanya mengirimkan lokasi gedung pernikahan mewah itu tanpa memberikan penjelasan rinci apa pun? Apa sebenarnya agenda besar yang sedang disembunyikan dan dipersiapkan di tempat megah itu?Pukul sembilan pagi lewat beberapa menit, di tengah sejuknya udara pagi yang masih tersisa, Humey sudah berdiri tegak di depan gerbang utama pesantren. Sebuah tas kecil berwarna hitam tampak menggantung rapi di bahu kanannya.Seumur hidupnya selama ia tinggal dan belajar di pesantren itu, ia belum pernah sekalipun mengambil izin keluar tanpa alasan yang jelas, apalagi hanya untuk urusan pribadi yang begitu rumit dan misterius seperti ini, apalagi perjalannya sekarang cukup jauh ke Jakarta.Kakin

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 24. Bayangan di Balik Layar

    Humey menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak oleh beban emosi yang menumpuk. Notifikasi gambar itu masih menggantung di layar ponselnya, seakan menjadi pintu tak kasat mata yang memisahkan dua dunia yang sangat berbeda.Di satu sisi ada harapan suci yang selama ini ia pelihara dalam sunyi, di sisi lain ada kemungkinan pahit yang tak pernah siap ia terima dalam hidupnya.Perlahan, dengan tangan yang bergetar hebat, ia mematikan layar ponsel tanpa sempat membuka gambar tersebut."Bukan sekarang..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar oleh angin malam.Ia sebenarnya tidak takut pada foto itu, melainkan takut pada kenyataan mutlak yang mungkin akan mengubah seluruh alur hidupnya hanya dalam sekali pandang. Semua impian masa depan yang ia rajut perlahan bisa runtuh seketika.Malam kembali turun dengan keheningan yang mencekam. Selepas salat Isya berjamaah di masjid pesantren, Humey memilih untuk duduk sendirian di serambi luar.Udara masih menyisakan aroma tanah basah ya

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 23. Aluna

    Malam itu, hujan belum benar-benar berhenti.Rintiknya masih jatuh perlahan di atas genting pesantren, meninggalkan irama monoton yang mengetuk-ngetuk kesunyian, seolah-olah waktu sedang menghitung detik-detik kehancuran bagi hati yang tertinggal dalam penantian.Humey tidak tidur. Ia duduk bersandar di sisi ranjang, memeluk lututnya sendiri dalam kegelapan kamar yang hanya ditembus oleh cahaya bulan yang pucat.Lampu sengaja ia padamkan, seolah ia sedang bersembunyi dari kenyataan yang perlahan-lahan merobek dinding pertahanannya.Matanya yang sembap menatap kosong ke arah meja, tempat secarik catatan peninggalan Eyman tergeletak.Namun, malam ini, kertas itu bukan lagi sumber kekuatan atau jimat pelindung; ia telah berubah menjadi beban yang menyesakkan dada.Untuk pertama kalinya, Humey merasa takut pada isi janji itu, takut jika ternyata ia hanyalah satu-satunya orang yang masih mendekap keyakinan, sementara dunia di luar sana telah lama melupakan.Pukul sebelas lewat tiga puluh t

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 22. Harapan Humey Yang Runtuh

    Fajar kembali menyentuh atap-atap pesantren dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah dunia enggan mengakui bahwa ada hati yang sedang retak di dalamnya.Bagi penghuni pesantren lainnya, pagi selalu membawa janji tentang harapan yang baru, tentang doa-doa yang akan dikabulkan, dan tentang ilmu yang siap diserap.Namun bagi Humey, setiap kali sinar matahari itu merayap masuk ke celah jendela, ia hanyalah penanda bahwa satu hari lagi telah berlalu dalam kekosongan yang menyesakkan. Sebuah hari lagi telah tuntas, dan Eyman tetap tidak ada.Humey tetap menjalani rutinitasnya dengan ketelitian yang hampir mekanis.Ia membangunkan santri putri untuk salat Subuh dengan suara yang lembut namun tipis, membimbing mereka menghafal ayat-ayat Al-Qur'an dengan konsentrasi yang dipaksakan, lalu membantu para ibu di dapur menyiapkan sarapan.Sesekali, tawa polos para santri yang berebut tempat di meja makan berhasil menyunggingkan senyum di bibir Humey, namun itu hanyalah riak kecil di permukaan.Se

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 21. Janji Yang terjaga

    Fajar menyapa pesantren dengan ritme yang sama, namun bagi Humey, setiap detik yang berlalu adalah penanda dari waktu yang terus berdetak.Langit di atas pesantren perlahan membasuh kelabu dengan semburat jingga, sementara lantunan ayat suci dari masjid kecil mulai mengusik kesunyian, membangunkan para santri untuk menyambut hari.Di antara langkah-langkah kecil yang riuh memenuhi halaman, Humey berdiri mematung di serambi asrama putri.Matanya yang bening menatap embun yang masih bergelantungan di ujung dedaunan, sebuah kesabaran yang ia tiru dari alam.Sudah berbulan-bulan sejak Eyman melangkah pergi, meninggalkan pesantren di belakang punggungnya.Masa iddah Humey pun sudah lama sampai di titik penghabisan, namun janji “Aku akan kembali saat semuanya benar-benar aman” masih ia simpan seutuh jiwa di relung hatinya yang terdalam.Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah napas bagi Humey, bahkan ketika kertas kecil pemberian Eyman mulai luruh warnanya karena terlalu sering

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 20. Menunggu

    Empat belas hari adalah waktu yang panjang bagi sebuah detak jantung yang senantiasa berpacu dalam cemas.Bagi Humey, waktu tersebut bukan dihitung berdasarkan jam atau hari, melainkan berdasarkan tetesan cairan infus, deru napas Eyman yang berangsur stabil, dan gurat kelelahan yang semakin dalam di wajah Abah.Selama dua minggu penuh, Humey nyaris tidak meninggalkan sisi ranjang Eyman.Ia tidur dengan posisi meringkuk di sofa sempit, bangun setiap kali Eyman membutuhkan sesuatu, dan menyeka pemuda itu dengan kasih sayang yang tak pernah luntur.Ketika akhirnya dokter memberikan lampu hijau bagi Eyman untuk pulang, ada kelegaan yang menyesakkan dada Humey.Mereka kembali ke pesantren, sebuah tempat yang selama ini menjadi rumah bagi jiwa mereka yang lelah.Namun, kepulangan itu tidak membawa kedamaian yang diharapkan. Suasana pesantren yang biasanya hangat justru terasa asing, seolah udara di sana telah berubah menjadi lebih dingin setelah badai yang mereka lalui.Sore itu, di ruang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status