Xafier menatap Tuan Eshal dingin, lalu mendengus pelan, tapi suara itu cukup untuk membuat udara di ruangan jadi berat. “Papa pasti sudah tahu soal dia, untuk apa aku cerita lagi?” Kata-kata itu membuat Tuan Eshal segera memijat kedua pelipisnya. Wajahnya bukan menunjukkan kemarahan, melainkan ekpresi kebingungan mencari jalan keluar.“Bagaimana kalau Ibumu dan Sherina tahu tentang gadis itu, Xafier?” Suaranya terdengar berat seperti batu yang ditahan di tenggorokan, setiap kata keluar dengan usaha. “Terlebih kalau mereka tahu, Zavira cuma seorang karyawan magang di salah satu cabang perusahaanmu.”Xafier menghembuskan napas panjang, dadanya mengembang lalu menyusut. Tapi ketika dia melihat ke arah Tuan Eshal lagi, pandangannya tetap tegas. “Biarkan saja mereka tahu. Sejak awal aku punya hak memilih siapa yang aku suka, tak peduli dia siapa.” Jemari Tuan Eshal semakin cepat memijit pelipisnya lebih erat, ujung kupingnya merah membara. Dia menutup mata sebentar, napasnya keluar denga
Read more