"Ikut aku!"“Zavira, kamu mau ke mana sih?” protes Donita, sedikit terengah karena ditarik mendadak.“Keluar dulu aku nggak bisa ngomong di sini,” jawab Zavira.Johan saling pandang dengan Donita. Johan yang biasanya mengoceh dengan gaya khasnya pun terdiam. Firasatnya berkata lain. Mereka bertiga akhirnya sampai di taman belakang kantor, tepat di area smoking area. Hanya beberapa orang yang duduk sambil merokok, namun cukup jauh untuk tidak mendengar percakapan mereka. Zavira berhenti, melepaskan tangan kedua sahabatnya, lalu berdiri diam beberapa detik.“Zavira,” panggil Donita pelan.Zavira menoleh. Bola matanya sudah merah, bibirnya bergetar.“Tolong percaya sama aku.” Kalimat itu keluar begitu saja.Donita mengerutkan kening. “Gimana kita mau percaya, kalau kamu aja nggak pernah jujur sama kita?”Johan langsung mengangguk cepat. “Iya, neng, dari awal kita udah ngerasa ada yang kamu sembunyiin. Tapi kita diem, kita nunggu kamu cerita sendiri. Tapi sekarang, sekarang semuanya uda
Read more