Xafier duduk di samping ranjang, satu tangan memegang mangkuk sup hangat, satu lagi menyodorkan sendok ke arah bibir Zavira. Matanya tak berpaling dari Zavira. “Buka mulutmu,” titah Xafier singkat.Zavira menatapnya datar. “Aku bukan anak kecil.”“Kalau bukan anak kecil, harusnya kamu bisa makan sendiri dari tadi,” balas Xafier tanpa emosi, tapi sendoknya tetap bertahan di depan bibir Zavira.Zavira mendengus pelan, tapi akhirnya membuka mulutnya juga. Ia mengunyah sup sambil memutar bola mata malas akan tetapi hatinya terasa hangat. Xafier tidak berhenti. Ia mengambil lagi satu sendok. “Lagi.”Zavira mengerjapkan mata. “Banyak amat, Tuan. Mau buat aku gemuk, ya? Udah.”"Sudah aku bilang. Jangan panggil aku, tuan!" serah Xafier mengingatkan. Matanya menatap tajam Zavira. "Maaf, aku bingung harus manggil apa," cicit Zavira. "Di kampung mu, orang memanggil apa pada suaminya?""Aa, akang ada juga yang manggil ayah, atau abi."Xafier tidak langsung menanggapi. Tatapannya turun, mempe
Read More