Hening. Hanya suara detak jam dan alunan piano yang kini terdengar begitu sendu, membelah kesunyian di antara mereka. “Zavira …,” panggil Sagara lagi, tatapannya kali ini terlihat begitu tulus namun memaksa. “Mau, kan? Aku janji akan urus semua surat perceraianmu sampai tuntas. Asalkan kamu bersedia di sisiku, sampai kapan pun.”Brak!“Dasar brengsek!” Sebuah teriakan tajam memecah suasana, disusul tarikan keras di kerah baju Sagara hingga pria itu terhenyak kaget. Zavira pun menegang, napasnya tercekat.Cepat-cepat ia menoleh, dan dalam sekejap seluruh dunianya seolah runtuh tak bersisa.“Mas Xafier,” ucap Zavira, lirih.Satu jam sebelumnya. Xafier melangkah masuk ke gedung cabang perusahaannya. Tujuannya jelas, hanya satu: menemui Zavira, istrinya. Namun, ia berkeliling tak kunjung menemukan sosok wanita itu. Keningnya langsung berkerut rapat.“Kemana dia? Tidak biasanya begini,” gumamnya pelan.Tepat saat itu, terdengar suara tawa riang. Donita dan Johan berjalan beriringan, ta
Read more