BAB 95 PERSIMPANGANRumah itu terasa sunyi, terlalu sunyi untuk seorang Chatrine Madison. Biasanya, ia terbiasa dengan keheningan, bahkan menikmatinya sebagai ruang bagi pikirannya yang selalu bekerja keras. Namun kali ini, sepi itu berubah menjadi penjara tak kasat mata.Ia duduk di kursi ruang tamu sejak pagi, jemari lentiknya meremas gelas teh yang sudah dingin. Tatapannya sesekali melayang ke arah pintu, lalu kembali pada jam dinding yang berdetak bagai palu yang terus menghantam kesadarannya.Sebenarnya, Chatrine bisa saja pergi. Dengan sekali sentuhan, ia bisa meraih kunci mobil dan menghilang. Bukankah ia juga sudah punya cukup bukti dan alasan?Chatrine sudah tahu ada rahasia besar yang berputar di belakangnya, menghancurkan martabatnya sebagai wanita modern berpendidikan. Namun anehnya, kakinya seakan terikat. Hatinya menolak beranjak.Chatrine Madison, yang biasanya selalu tegak dengan prinsip, kini justru merendahkan egonya sendiri hanya untuk menunggu seorang tukang kayu
Last Updated : 2026-06-18 Read more