Ruang sidang yang didominasi kayu jati tua itu terasa begitu pengap. Maudy duduk dengan punggung tegak, jemarinya meremas sapu tangan pemberian Bayu di bawah meja persidangan. Di sampingnya, Rio duduk dengan wajah yang sulit dibaca. Antara datar, dingin, dan seolah-olah ia adalah korban dalam drama ini.Hakim Ketua, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, mulai membuka persidangan dengan mengetukkan palu sebanyak tiga kali. Bunyi tok, tok, tok itu bergema, menandai dimulainya babak paling krusial dalam hidup Maudy."Agenda sidang hari ini adalah penyampaian pihak tergugat atas permohonan cerai yang diajukan oleh pemohon. Saudara Tergugat, apakah Saudara sudah membaca gugatan dari suami Saudara? Dan bagaimana tanggapan Saudara?" suara Hakim Ketua berat dan berwibawa sambil menoleh ke arah Maudy.“Saya bersedia menerima gugatan cerai itu Pak Hakim,” jawab Maudy dengan tegas dan yakin,meski jantungnya berdebar debar.Hakim Ketua lalu menoleh ke arah Ri
Read more