Keesokkan harinya, suasana di Pengadilan Agama terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Langit yang sedikit mendung seolah merefleksikan ketegangan yang menggantung di koridor gedung. Maudy berjalan perlahan menuju ruang sidang utama, jemarinya meremas tali tasnya begitu kuat. Rasa cemas dan gugup bercampur menjadi satu. Di belakangnya, Pak Dharma berjalan dengan langkah tegap, membawa tas kerja kulit yang berisi senjata yang telah disiapkan Bayu semalaman.Begitu pintu ruang sidang itu terbuka, Maudy merasakan hembusan udara dingin dari pendingin ruangan yang langsung menusuk kulitnya. Di sana, di kursi penggugat, Rio sudah duduk dengan angkuh. Ia mengenakan kemeja batik berwarna gelap, memberikan kesan formal yang kaku. Saat Maudy masuk, Rio menoleh perlahan, memberikan senyum tipis yang penuh rahasia yang seolah berkata bahwa ia masih memegang kendali dan akan memenangkan persidangan.Tak lama kemudian, Hakim Ketua memasuki ruangan. Membuat suasana makin menegangkan untu
Read more