Di sebuah bar yang tersembunyi di sudut kota, Rio duduk sendirian dengan segelas minuman keras yang sudah hampir tandas. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memantul di matanya yang memerah, memperlihatkan gurat keputusasaan sekaligus dendam yang membara. Amarahnya bukannya padam setelah diusir dari kantor Bayu. sebaliknya, rasa malu itu terus menggerogoti dadanya seperti api yang disiram bensin.Setiap kali dia teringat wajah tenang Bayu dan tatapan muak Maudy, tangannya akan mencengkeram erat gelas kaca itu. Bagi Rio, kehilangan harta adalah satu hal, tapi melihat Maudy, hidup bahagia dengan musuh bebuyutannya adalah penghinaan yang tidak bisa dia toleransi. Bukan karena dia masih menyukai Maudy, melainkan karena harga diri.Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia merogoh ponselnya dan menghubungi Lyra. Begitu panggilan tersambung, Rio tidak lagi menggunakan basa-basi."Lyra! Ada hal penting yang mau aku bicaranya dengan kamu!!" geram Rio, suaranya serak dan berat dari s
Read More