مشاركة

Bab 235

مؤلف: Kak Han
last update تاريخ النشر: 2026-05-09 21:00:44

Mobil Maudy melaju membelah jalanan kota yang padat, namun bagi Maudy, dunia di luar jendelanya tampak kabur. Tangannya masih gemetar saat memegang kemudi, dan bayangan wajah Rio yang menyeringai di depan gerbang pengadilan terus menghantui pikirannya. Suara klakson kendaraan lain terdengar seperti dengungan jauh yang tak bermakna. Napasnya masih pendek-pendek, sisa dari amarah dan rasa muak yang membuncah di ruang mediasi tadi.

​Tepat saat ia berhenti di lampu merah, ponselnya yang tergeletak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 240

    Rio melangkah mundur sedikit, memberikan ruang bagi Lyra untuk bernapas. Namun matanya tetap mengunci manik mata wanita itu dengan sorot yang penuh perhitungan. Dia berjalan menuju meja kecil, mengambil botol wiski yang masih tersisa sedikit, lalu menuangkannya ke dalam gelas tanpa suara. Hanya denting kaca yang memecah keheningan yang tegang itu. ​"Kita sudah terlalu jauh untuk sekadar menjadi orang asing yang tidak sengaja tidur bersama, Lyra. Dan kita juga terlalu cerdas untuk terjebak dalam drama percintaan yang picik seperti Maudy dan Bayu,” ujar Rio pelan sembari menyesap minumannya. Dia lalu berbalik, menatap Lyra yang masih berdiri kaku dibalut selimut sutranya. ​Lyra mengerutkan kening, mencoba mencari tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Apa maksudmu? Kamu ingin kita kembali menjalin hubungan?" tanya Lyra. "Hubungan? Tidak. Aku tidak ingin mengekangmu. Aku tahu kamu adalah wanita yang haus akan kebebasan dan kekuasaan. Jika besok kamu ingin mencari pria lain, ingin men

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 239

    Suasana di dalam kamar utama apartemen Lyra terasa begitu pekat dan berat. Udara yang terperangkap di dalam ruangan itu membawa aroma alkohol yang menguap, bercampur dengan sisa-sisa aroma gairah yang baru saja padam. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra yang kini berantakan, dua raga terbaring lemas, seolah seluruh tenaga mereka telah terserap habis oleh pergulatan panas yang lahir dari dendam dan frustrasi.​Napas Rio masih terdengar pendek dan terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Di sampingnya, Lyra terpejam dengan sisa-sisa peluh yang masih mengilap di kulitnya. Keheningan yang menyusul setelah badai hasrat itu terasa sangat asing, namun keduanya terlalu lelah untuk sekadar bersuara. Perlahan, kesadaran yang sempat terbang perlahan kembali, membawa mereka jatuh ke dalam tidur singkat yang dipicu oleh kelelahan dan pengaruh wiski.​Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam.​Rio adalah yang pertama membuka mata. Kepalanya berdenyut nyeri, seb

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 238

    Suasana malam itu di apartemen milik Lyra terasa begitu berat oleh aroma alkohol dan asap rokok yang menggantung tipis di udara. ​Rio duduk di sofa beludru besar, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Di depannya, botol wiski mahal sudah berkurang lebih dari setengahnya. Lyra sengaja mengundang Rio ke apartemennya untuk merayakan kemenangan mereka.Di sisi lain, Lyra berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota, menyesap gelas kristalnya dengan senyum sinis yang tak kunjung hilang.​"Lihat mereka sekarang, Rio. Maudy keluar dari pengadilan dengan wajah sehancur itu. Dan Bayu? Aku bisa bertaruh dia sedang mengerahkan seluruh kekuasaannya hanya untuk menenangkan wanitanya yang rapuh,” ujar Lyra memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit serak karena pengaruh alkohol."Kamu benar, Lyra. Keputusan hakim untuk mediasi adalah pukulan telak. Aku menikmati setiap detik saat aku bilang aku telah memaafkan Maudy. Kamu seharusnya melihat wajahnya. Dia t

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 237

    Di dalam kamar hotel yang hening itu, ketenangan yang baru saja dirajut Bayu kembali terusik. Tak lama setelah ponsel Maudy bergetar, kini giliran ponsel Bayu yang berada di saku celananya memberikan tanda notifikasi. Bayu merasakannya, tapi dia tidak segera mengambilnya. Dia masih ingin menjaga momen damai bersama Maudy. Namun, getaran itu beruntun, seolah si pengirim pesan sedang meledakkan amarahnya di balik layar. ​Bayu perlahan merogoh ponselnya. Matanya menyipit saat membaca nama pengirim di baris notifikasi. Ada nama Lyra di sana. ​Pesan itu masuk dengan penuh cemoohan dan racun. Lyra tampaknya telah kehilangan akal sehatnya setelah rencananya dengan Cindy gagal total. ​"Lihat hasil dari kebodohanmu, Bayu! Kamu pikir kamu sangat cerdas dengan skenario pemalsuan tanda tangan itu? Lihat sekarang, karena kebodohanmu itu, Rio punya alasan untuk mencabut gugatannya. Dia akan mengulur waktu selamanya, dan Maudy akan tetap terikat padanya. Semua ini karena egomu yang ingin mengha

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 236

    Di dalam kamar hotel yang tenang itu, waktu seolah berjalan melambat. Cahaya matahari sore yang mulai menguning menerobos masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di lantai karpet. Bayu masih membiarkan Maudy bersandar di dadanya, jemarinya mengusap bahu wanita itu dengan gerakan yang ritmis dan menenangkan. Ia bisa merasakan sisa-sisa isak tangis Maudy yang mulai mereda, meski napas wanita itu terkadang masih tersengal.​Bayu mendengarkan setiap detail keluhan Maudy. Tentang bagaimana Rio memutarbalikkan fakta, tentang fitnah keji di depan mediator, hingga ancaman di depan gerbang pengadilan. Setiap kali nama Rio disebut dengan nada benci, rahang Bayu mengeras, otot-otot di wajahnya menegang menahan amarah yang mendidih di balik ketenangannya. Namun, ia tahu sekarang bukan saatnya untuk meledak. Maudy butuh pelindung yang stabil, bukan api yang ikut membara.​"Maudy, lihat aku. Dia boleh bersilat lidah sesukanya di ruang mediasi. Tapi di persidangan kedua nanti, semua

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 235

    Mobil Maudy melaju membelah jalanan kota yang padat, namun bagi Maudy, dunia di luar jendelanya tampak kabur. Tangannya masih gemetar saat memegang kemudi, dan bayangan wajah Rio yang menyeringai di depan gerbang pengadilan terus menghantui pikirannya. Suara klakson kendaraan lain terdengar seperti dengungan jauh yang tak bermakna. Napasnya masih pendek-pendek, sisa dari amarah dan rasa muak yang membuncah di ruang mediasi tadi.​Tepat saat ia berhenti di lampu merah, ponselnya yang tergeletak di kursi penumpang bergetar. Nama "Bayu" muncul di layar. Maudy menekan tombol hijau dengan jari yang dingin.​"Halo, Bayu... Rio... dia..." suara Maudy tercekat. Ia ingin mengadu, ingin menceritakan betapa liciknya pria itu, namun lidahnya terasa kelu oleh tumpukan emosi yang menyesakkan dada.​"Sudah, nggak usah diterusin. Pak Dharma sudah cerita semua. Aku tahu apa yang dia lakukan di dalam persidangan sana. Dan aku tahu apa yang dia katakan di depan gerbang,” suara Bayu terdengar di seberang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 16

    Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. ​"Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 42

    Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 18

    Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. ​Lyra hanya tertawa k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 55

    Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status