Malik perlahan meletakkan cerutunya di atas asbak kristal. Ia tidak segera menjawab, melainkan menatap Rio dengan tatapan yang sangat datar, hampir menyerupai rasa iba yang dingin. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit saat Malik menghela napas panjang, sebuah gestur yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang pengacara yang biasanya haus akan uang panas."Ambil kembali tasmu, Pak Rio. Simpan uangmu. Aku tidak bisa menerima kasus ini!” tolak Malik dengan suara rendah yang berat.Rio tertegun. Ia mengerutkan dahi, mengira pendengarannya sedang bermasalah. "Apa? Kamu bercanda, Malik? Aku belum menyebutkan nominal pastinya, tapi aku jamin nilainya tiga kali lipat dari kasus terbesar yang pernah kamu tangani. Rekening baruku sudah siap, tunai pun aku bisa usahakan!" tegas Rio untuk meyakinkan Malik.Malik menggeleng perlahan. Ia memutar kursi kebesarannya, menatap deretan buku hukum di dinding ruangannya. "Ini bukan soal bayaran, Rio. Kamu bisa memberiku gunung emas sekalipun, tapi
Read more