Larut malam di Paris terasa begitu tenang. Cahaya keemasan Menara Eiffel menyusup lembut melalui jendela kamar hotel, menerangi ranjang king size tempat Sasqia dan Kaelix berbaring. Usai berjalan-jalan dan berbelanja seharian, mereka sudah mandi dan berbaring. Namun Sasqia belum bisa terlelap. Ia terjaga dalam dekapan suaminya yang memeluknya erat. Perlahan ia membuka mata, menatap wajah damai Kaelix yang tertidur. Meski sedang tidur, aura kuat dan gelap pria itu tetap terasa mendominasi. “Aku masih gak ngerti … perasaan kamu sebenernya seperti apa sama aku, Mas?” gumam Sasqia sangat lirih, hampir tak terdengar. “Kamu selalu baik sama aku, bahkan jauh sebelum aku jadi istri kamu. Tapi … kejadian malem itu masih buat aku takut.” Jemarinya pelan menyentuh bibir bawahnya sendiri, mengingat luka yang pernah ada di sana karena gigitan kasar Kaelix. “Setiap kali kamu deket-deket buat cium aku, aku masih trauma. Untungnya beberapa hari ini kamu gak sekasar malem itu … tapi aku tet
Read more