“Kamu gagal, Mas?” Miriam menyipitkan matanya tajam. “Jadi Kaelix tetap akan menikahi Sasqia?” Remmer menghela napas panjang, pundaknya terkulai lelah. “Sudahlah, Mir. Sudah bukan zamannya lagi memaksakan perjodohan.” “Aku memang ingin menjodohkan Kaelix dengan Viona, kalau dia mau. Kalau tidak, dia boleh mencari perempuan lain yang lebih pantas. Tapi jangan Sasqia!” desis Miriam penuh penolakan. Remmer menggeleng pelan. “Mau bagaimana lagi? Yang diinginkan Kaelix ya Sasqia. Dia sudah dewasa, Mir. Dia paling tahu apa yang dia mau.” “Mas, Kaelix memang dewasa dalam urusan bisnis,” Miriam menajamkan suaranya, “Tapi soal memilih perempuan, dia masih payah. Aku ibunya, dan aku perempuan. Aku tahu betul bagaimana pemikiran perempuan seperti Sasqia.” Remmer mengangkat alisnya. “Memangnya seperti apa?” “Dia hanya ingin hidup enak, Mas. Dia memanfaatkan Kaelix. Perempuan seperti itu—” “Semua perempuan sama, Mir. Kamu juga dulu sama,” potong Remmer datar. “Hidup ini realistis.” “Tapi S
Read more