Pintu kamar pengantin tertutup dengan pelan tapi tegas. Kaelix masuk, jas pengantinnya sudah dilepas, hanya kemeja putih yang tiga kancing teratasnya terbuka. Matanya langsung mengunci Sasqia yang masih berdiri di depan cermin besar, gaun pengantin putihnya belum dilepas. Masih membingkai tubuh indahnya. Tanpa kata, Kaelix mendekat dengan langkah lebar. Sasqia menoleh, bibirnya terbuka hendak bicara, namun belum sempat ketika Kaelix langsung menyambar tengkuknya kasar. Pria itu menarik wajahnya mendekat, dan menelan bibirnya dengan brutal. Tidak ada kelembutan sama sekali. Ia menciumnya seperti orang yang kelaparan bertahun-tahun. Lidahnya langsung menyusup paksa melewati bibir Sasqia yang sempat terbuka karena kaget, menjilat lebih dalam, menekan, dan menguasai. Giginya menggigit bibir Sasqia cukup keras sampai wanita itu mendesis kesakitan. “Mmmh—!” Sasqia meronta, kedua tangannya mendorong dada Kaelix dengan kuat. Ia mencoba memalingkan wajah, tapi Kaelix langsung menahan ke
Read more