“Ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan candaan, Kek,” ucap Kaelix datar. Tatapannya lurus menembus mata sang kakek, dingin tanpa sedikit pun nada bercanda. Raymond justru terkekeh pelan. “Kenapa terlalu serius?” tanyanya santai. “Kalau memang sama-sama suka, tidak ada salahnya berbagi.” Sorot mata Kaelix berubah semakin tajam. “Apa maksud Kakek?” “Maksud kakek sederhana.” Raymond menyandarkan tubuhnya di sofa. “Kalau kamu tidak keberatan, kenapa harus diperebutkan?” “Saya keberatan.” Jawaban itu keluar tanpa jeda. “Saya tidak suka berbagi.” Ucap Kaelix, membuat suasana ruang tamu berubah sunyi. Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, Kaelix membalikkan badan. Langkahnya tenang, namun tegas, meninggalkan ruang tengah begitu saja. Raymond hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Rupanya sifat posesifnya masih sama.” Tatapannya kemudian beralih kepada Miriam. “Sepertinya kejadian bertahun-tahun lalu kembali terulang, ya?” Miriam menghembuskan napas pelan. “Entahlah, Yah.
Read more