Sasqia mengernyit kecil menatap layar ponselnya. “Kok Kak Shiren gak bisa dihubungi, ya?” gumamnya lirih sembari kembali menekan tombol panggil. Namun, seperti sebelumnya, panggilan itu kembali tak tersambung. “Apa lagi sibuk?” Suara pintu terbuka perlahan. Kaelix yang baru selesai mandi melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melihat istrinya masih duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangan, langkahnya terhenti. “Telepon siapa, Sayang?” Sasqia mendongak. “Kak Shiren, Mas.” Kaelix mengangguk pelan. “Ada perlu?” Sasqia tersenyum kecil, lalu mematikan layar ponselnya. “Nggak ada, kok. Cuma pengen ngobrol aja.” Kaelix tidak bertanya lagi. Ia tahu, jika Sasqia ingin bercerita, wanita itu akan melakukannya tanpa dipaksa. Pria itu naik ke atas ranjang, lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur. Tangannya meraih jemari sang istri dan menggenggamnya pelan. Ada keheningan beberapa saat. “Saya mau kamu pergi.” Sasqia spontan menoleh, matanya membelal
더 보기