“Permisi, Pak.” Arlan mengetuk pintu lebih dulu sebelum melangkah masuk ke ruang kerja Kaelix. Kaelix yang sejak tadi fokus menatap layar laptop hanya melirik sekilas. “Ada apa?” “Siang ini Bu Sasqia sempat datang ke kantor polisi,” beritahu Arlan dengan nada sopan. Jemari Kaelix yang sedang mengetik perlahan berhenti. “Menemui Shiren?” Arlan mengangguk. “Iya, Pak.” “Ada keributan?” “Tidak ada.” Arlan tersenyum tipis. “Nyonya hanya berbicara beberapa saat, lalu langsung pulang. Sekarang beliau sudah berada di rumah.” Raut wajah Kaelix sedikit melunak. “Syukurlah.” Ia menghembuskan napas lega. “Kalau begitu, tidak ada lagi?” “Tidak ada, Pak.” “Baik. Kamu bisa kembali bekerja.” “Baik, Pak.” Arlan membungkukkan badan singkat sebelum keluar meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup, ruangan itu kembali sunyi. Kaelix menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Tatapannya perlahan beralih ke sebuah figura kecil yang berdiri di sudut meja, ia meraihnya. Di dalam bingkai itu tersi
Read more