تسجيل الدخولSasqia mengernyit kecil menatap layar ponselnya. “Kok Kak Shiren gak bisa dihubungi, ya?” gumamnya lirih sembari kembali menekan tombol panggil. Namun, seperti sebelumnya, panggilan itu kembali tak tersambung. “Apa lagi sibuk?” Suara pintu terbuka perlahan. Kaelix yang baru selesai mandi melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melihat istrinya masih duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangan, langkahnya terhenti. “Telepon siapa, Sayang?” Sasqia mendongak. “Kak Shiren, Mas.” Kaelix mengangguk pelan. “Ada perlu?” Sasqia tersenyum kecil, lalu mematikan layar ponselnya. “Nggak ada, kok. Cuma pengen ngobrol aja.” Kaelix tidak bertanya lagi. Ia tahu, jika Sasqia ingin bercerita, wanita itu akan melakukannya tanpa dipaksa. Pria itu naik ke atas ranjang, lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur. Tangannya meraih jemari sang istri dan menggenggamnya pelan. Ada keheningan beberapa saat. “Saya mau kamu pergi.” Sasqia spontan menoleh, matanya membelal
Miriam menatap menantunya tanpa sedikit pun mengubah raut wajah. “Jamu itu tidak boleh kamu minum lagi.” Sasqia menggeleng pelan. “Ibu salah. Justru jamu ini katanya bisa membantu menyuburkan kandungan.” Sebelum kalimat itu selesai, Miriam mengangkat satu tangan, menghentikannya. “Cukup.” Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup membuat seluruh dapur kembali sunyi. “Jangan mengajari saya soal hal-hal seperti itu.” Tatapan tajamnya beralih pada botol-botol kosong di dalam wastafel. “Usia saya jauh di atas kamu. Pengalaman saya juga lebih banyak.” Sasqia menggigit bibir bawahnya pelan, memilih diam. Miriam kembali menatapnya. “Kalau memang kalian sedang menjalani program hamil, lakukan dengan cara yang benar.” “Cara yang benar?” ulang Sasqia lirih. “Dokter.” Jawaban Miriam terdengar tegas. “Ikuti pemeriksaan. Minum vitamin yang diresepkan. Jalani terapi jika memang diperlukan. Bukan menelan apa saja hanya karena seseorang berkata itu bisa membuatmu cepat hamil.” Wanita paruh ba
Mobil melaju membelah jalanan siang yang mulai padat. Tak satu pun dari mereka membuka percakapan sejak meninggalkan rumah sakit. Suara mesin mobil dan pendingin ruangan memenuhi kabin yang terasa begitu sunyi. Kaelix duduk menatap lurus ke depan. Kedua tangannya bertaut di atas pangkuan, sementara rahangnya sesekali mengeras, seolah masih memikirkan setiap kalimat yang diucapkan dokter beberapa menit lalu. Di sampingnya, Sasqia mencuri pandang beberapa kali. Ia tahu suaminya sedang memikirkan sesuatu. Hanya saja ia tak tahu harus memulai dari mana. Saat lampu lalu lintas berubah merah, mobil berhenti perlahan. Tanpa mengalihkan pandangan dari kaca depan, Kaelix membuka suara. “Saya minta maaf.” Kalimat itu terdengar lirih, namun cukup membuat Sasqia menoleh cepat. “Mas ….” “Semuanya salah saya.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Nggak. Ini bukan salah Mas.” Kaelix menghembuskan napas panjang. Sudut rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia memejamkan mata sejenak. “Saya terlalu m
Ruang praktik mendadak terasa lebih sunyi setelah pemeriksaan selesai. Dokter tidak langsung memberikan penjelasan seperti biasanya. Tatapannya bergantian menyusuri layar USG, hasil laboratorium, lalu kembali lagi ke monitor di hadapannya. Sesekali alisnya berkerut tipis, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar sesuai dengan dugaan awalnya. Di kursi sebelah, Sasqia tanpa sadar meremas ujung rok yang menutupi lututnya. Tatapannya bergantian antara dokter dan Kaelix, berharap wanita paruh baya itu segera mengucapkan sesuatu. Namun yang terdengar hanya suara pendingin ruangan. Keheningan yang semula terasa biasa perlahan berubah menyesakkan. Kaelix akhirnya memecahnya. “Ada sesuatu, Dok?” Dokter mengangkat kepala, tetapi bukannya menjawab, ia kembali memperbesar gambar pada layar. Jemarinya menggeser beberapa data sebelum perlahan melepas kacamatanya. “Tunggu sebentar.” Kaelix menarik napas pendek. Tatapannya beralih kepada Sasqia. Wanita itu mencoba membalas dengan senyum tip
Sasqia membulatkan matanya. Bukan karena terkejut, melainkan karena merasa muak. “Apa?” tatapannya menusuk tajam. “Mas sadar sedang bicara apa?” Raka tak bergeming. “Saya tidak sedang memfitnah suami atau pun kakak kamu. Saya melihat sesuatu.” Sasqia mengepalkan jemarinya di gagang troli. “Aku kasih waktu Mas lima detik buat narik ucapan itu. Kalau gak ….” Raka memotong ucapannya. “Kalau saya bohong, saya siap bertanggung jawab. Tapi kalau saya benar ...,” ia menatap Sasqia tanpa berkedip. “apa kamu siap menerima kenyataannya?” _____ Sejak meninggalkan supermarket, pikiran Sasqia tak benar-benar tenang. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Raka terus berputar di kepalanya. Sekali lagi bukan karena ia mempercayainya. Melainkan karena ia yakin pria itu sengaja sedang berusaha mengusik rumah tangganya. “Aku yakin Mas Raka cuma lagi cari cara buat bikin hubungan aku sama Mas Kael retak,” gumamnya lirih sambil menggenggam kemudi. “Lagipula sekarang Kak Shiren udah punya pekerjaan bagu
Sasqia baru saja selesai routine skincare malamnya. Wajahnya sudah bersih, lembap, dan sedikit berkilau di bawah lampu kamar yang redup. Ia mematikan lampu wardrobe, lalu melangkah pelan menuju ranjang. Kaelix sudah berbaring di sana, tubuhnya setengah tertutup selimut, satu tangan di belakang kepala. Matanya terbuka ketika mendengar langkah istrinya. Seperti biasa setiap malam, tatapannya langsung melembut begitu melihat Sasqia. Sasqia naik ke ranjang dan berbaring di sampingnya. Belum sempat ia membenarkan posisi, Kaelix sudah bergeser mendekat. Lengannya melingkar di pinggang Sasqia, menariknya pelan ke arah tubuhnya. Bibirnya mendarat di pelipis istri, lalu turun ke pipi, sebelum akhirnya mencium bibir Sasqia lembut. Ciuman itu perlahan menjadi lebih dalam. Tangan Kaelix mulai meraba pinggang ramping Sasqia, naik pelan ke sisi tubuhnya, jari-jarinya menyusuri kulit yang masih hangat. Napasnya terasa lebih dalam di dekat telinga Sasqia. “Sayang ….” bisik Kaelix, suaranya rend
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,
“Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat







