Masuk“Kakek, kita pulang sekarang?” tanya Sherly pagi itu begitu membuka mata dan mendapati Mahendra sudah selesai mandi serta berganti pakaian. Mahendra yang sedang merapikan jam tangannya menoleh, lalu tersenyum kecil. “Nanti setelah sarapan. Tante Qia minta kita makan dulu di sini, baru setelah itu pulang.” Sherly mengangguk patuh. “Oke.” Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari luar kamar. Sasqia muncul di ambang pintu dengan rambut yang masih setengah basah. Ia sudah mengenakan pakaian rumah yang nyaman, tetapi wajahnya terlihat sedikit pucat karena semalam tidurnya kurang nyenyak. “Sherly udah bangun, sayang?” tanyanya. “Udah, Tante!” sahut Sherly dari dalam kamar. “Tante boleh masuk?” “Boleh.” Mahendra segera membukakan pintu untuk putrinya. “Pa?”
Malam itu Sasqia tak bisa memejamkan mata. Ucapan keponakannya terus berputar di kepalanya, permintaan kecil Sherly agar ibunya dibebaskan. Di kamar tamu yang terletak di lantai satu, Mahendra dan Sherly sudah tertidur pulas setelah memutuskan menginap karena terlalu larut untuk pulang. “Sayang … tidur,” bisik Kaelix yang berbaring di samping kanannya. Tangannya yang hangat mengusap pelan lengan Sasqia. “Sudah, jangan dipikirkan lagi. Malam ini hanya kita berdua.” Tapi bagi Sasqia, itu tak semudah yang diucapkan. Sherly masih kecil, keponakannya sendiri, yang terpaksa dijauhkan dari ibunya. Perasaannya campur aduk, prihatin, bersalah, dan takut. Kaelix menoleh, menatap wajah istrinya yang diliputi cahaya lampu tidur yang redup. “Siang tadi kamu sempat kontraksi ringan. Jangan sampai stres ini memicu yang sungguhan, ya. Masih sepuluh hari lagi, saya ingin kamu tenang sampai waktunya tiba.” Sasqia menghela napas panjang, telapak tangannya mengusap perut yang sudah membulat. “
Kaelix tercekat. Tatapannya terpaku pada mata polos Sherly, seolah masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut bocah itu. “Apa maksud kamu, sayang?” Sherly menghela napas panjang, kemudian menggenggam tangan Kaelix semakin erat. “Sherly mau Om bebasin Mama.” Kaelix tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada Mahendra, meminta penjelasan tanpa perlu mengucapkannya. Mahendra menghembuskan napas berat. “Tadi siang kami datang menjenguk Shiren,” jelasnya akhirnya. “Dan sekarang Sherly sudah tahu semuanya dari ibunya.” Kening Kaelix berkerut. “Bagaimana Sherly bisa tahu kalau Shiren ada di penjara?” tanyanya. “Papa yang memberitahunya?” Mahendra menggeleng pelan. “Bukan. Raka yang memberitahunya.” “Iya, Om.” Sherly buru-buru menyela. “Papa yang kasih tahu Sherly.” Kaelix kembali menatap bocah it
“Kakek, ayo kita ke rumah Tante Sasqia sekarang.” Sherly menggandeng tangan Mahendra dengan langkah terburu-buru begitu mereka meninggalkan kantor polisi. Wajah bocah itu tampak penuh semangat, seolah tidak sabar ingin segera bertemu dengan bibinya dan menyampaikan maksudnya. Hampir tiga puluh menit mereka berada di ruang kunjungan untuk menemui Shiren. Selama waktu itu, Shiren tidak hanya memeluk putrinya. Ia juga berkali-kali mengeluhkan kehidupannya di dalam tahanan. Di sela-sela keluhan itu, Shiren menyelipkan kalimat-kalimat yang membuat Sherly merasa ibunya berada dalam keadaan menyedihkan karena orang lain. Mahendra yang mendengar semuanya hanya bisa menghela napas dalam hati. Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan Shiren. Dan kini, melihat Sherly yang begitu bersemangat mengajaknya pergi, Mahendra semakin yakin dengan dugaannya.
“Sasqia, sayang,” seru Kaelix begitu memasuki rumah setelah mendapat kabar mengenai kondisi sang istri. Langkahnya nyaris berlari ketika menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada Sasqia yang terbaring lemah di atas ranjang. Di dalam kamar, Miriam sudah berada di sana bersama Dokter Maya yang sengaja dipanggil ke rumah untuk memeriksa kondisi Sasqia. “Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Kaelix. Nada suaranya terdengar tenang, tetapi kekhawatiran begitu jelas terselip di baliknya. Dokter Maya memberikan senyum menenangkan. “Bu Sasqia dalam kondisi baik. Tidak ada tanda-tanda yang membahayakan dirinya maupun bayinya.” Bahu Kaelix yang sejak tadi menegang sedikit mengendur. “Lalu kontraksi tadi?” “Itu kontraksi palsu, atau yang biasa disebut Braxton Hicks.” Kaelix mengernyit. “Kontr
Mobil yang membawa Mahendra dan Sherly berhenti di halaman kantor polisi menjelang siang. Begitu pintu mobil dibuka, Sherly langsung turun dengan langkah tergesa. “Kakek, Mama ada di sini, kan?” Mahendra yang baru saja menutup pintu mobil mengangguk pelan. “Iya, Nak. Mama kamu ada di sini.” “Ayo buruan masuk ke dalem, kek. Aku mau ketemu sama Mama, gak sabar.” Mahendra hanya bisa menggeleng pelan. “Kita harus menunggu sebentar.” Sherly mengerucutkan bibir. “Tapi Sherly udah kangen.” Mahendra tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan mungil cucunya. “Iya. Sebentar lagi kamu bisa bertemu Mama.” Mereka kemudian memasuki gedung tersebut. Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan menyerahkan dokumen yang diperlukan, seorang petugas mengarahkan mereka menuju ruang kunjungan. Sherly terus bertanya sepanjang perjalanan. “Mama
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla







