Kaelix menghembuskan napas berat. Ia bahkan tidak perlu bertanya lebih jauh untuk menebak siapa yang kembali datang mencarinya. “Ibu mertua saya datang lagi?” tanyanya kepada Arlan yang berdiri tegak di hadapan meja kerjanya. Arlan mengangguk sopan. “Benar, Pak. Beliau sudah menunggu di lobi.” Kaelix memijat pelipisnya sebentar, lalu kembali menatap layar laptop. “Suruh pulang. Saya sedang sibuk.” “Baik, Pak.” Arlan membungkuk singkat, kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Kaelix menyandarkan punggungnya pada kursi. Tatapannya menerawang sejenak sebelum beralih pada berkas di atas meja. “Rumah yang saya berikan kepadanya masih sangat layak untuk ditinggali,” gumamnya. Rahangnya mengeras. “Lingkungannya bersih, aman, dan semua kebutuhan dasar tersedia. Memang tidak besar seperti rumah sebelumnya, tetapi bukan berarti tempat itu tidak pantas.” Ia mengetukkan ujung jarinya perlahan di permukaan meja. “Ada kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, dapur, ka
Read more