“Tapi aku ingin,” katanya.“Tapi aku tidak mau tertular sakitmu.” Aku memejamkan mata, menahan segala ekspresi yang mungkin keluar ketika merasakan sensasi basah menyelimuti leherku. Aku tanpa sadar melingkarkan tanganku sendiri di bahunya, meremasnya sebagai respon atas aksi bibir Jarrel yang begitu kurang ajar.“Kau tidak akan sakit hanya karena kita bercinta, sayangku.”“Tapi kan—”“Anggap saja ini sebagai balasan …” selanya seraya menjulurkan lidahnya ke sepanjang leherku hingga ke telingaku. Mengirimkan getaran nikmat disana yang membuat bulu kudukku berdiri. “… untuk apa yang sudah aku lakukan untukmu hari ini.”Aku menghela napas, merasa kalah dan hanya bisa berpasrah sambil memandang langit-langit kamar. “Dasar kepala batu.”Aku membuang muka, terlalu malu untuk menatap padanya yang kini sudah menjauh dari sana. Jarrel tersenyum melihatku yang tersipu, karena baginya mungkin itu terlihat lucu.Jarrel menghela napas puas, lalu membungkuk. Memerangkapku yang kini berada di bawah
Última atualização : 2026-05-08 Ler mais