Julian mengangkat tangan perlahan, telapaknya terbuka seperti sedang menenangkan seekor binatang buas yang siap menerkam. Senyum sinisnya melebar, matanya menyipit penuh ejekan yang dingin.“Kendalikan dulu emosimu, Tuan Muda…” katanya dengan nada rendah yang penuh hiburan. “He he he…”Ia terkekeh sinis, suaranya bergema pelan di penthouse mewah yang sunyi itu, lalu berjalan santai menuju kursi besar berlapis kulit hitam di depan dinding kaca. Langkahnya ringan, seolah amarah Jovian hanyalah angin malam yang tak berarti.Jovian menatapnya tajam. Tatapannya seperti elang yang mengunci mangsa — dingin, menusuk, dan penuh kebencian yang sudah mendidih hingga ke tulang.Julian duduk dengan santai, menyilangkan kaki, lalu menatap keponakannya dengan pandangan penuh kemenangan. Ia menyesap cognac-nya sekali lagi sebelum berbicara.“Beritahu aku,” ujarnya pelan, suaranya penuh godaan licik. “Apakah dia sudah tergila-gila dengan senjatamu itu? Dan kau pasti menikmatinya juga, kan? Aku benar,
Read more