"Lun... itu..." Jovian terbata-bata, suaranya parau, bukan lagi karena gairah yang tertahan, melainkan oleh rentetan kejutan yang baru saja meruntuhkan benteng terakhir akal sehatnya. Matanya yang biasanya tajam, kini membelalak pasrah, terpaku pada bercak merah segar di atas sprei abu-abu yang lecek. Di bawah kerlip lampu jalan yang menyusup dari celah jendela, noda itu tampak begitu kontras, begitu nyata, seolah disengaja untuk mengukir jejak abadi dalam ingatannya.Bercak merah darah itu bukan sekadar noda. Ia adalah penanda bisu, saksi bahwa ia baru saja meruntuhkan benteng pertahanan terakhir dari Luna, satu-satunya orang yang paling tulus mendampinginya selama belasan tahun. Kejantanannya yang masif justru membalas dengan denyutan yang dua kali lebih kencang, bereaksi secara primitif terhadap fakta bahwa ia adalah pria pertama yang menanamkan jejak di sana. Luna tidak menunggu Jovian untuk tenggelam dalam pusaran penyesalan atau kekaguman yang sia-sia. Dengan kedua tangan yang
Read more