“Ahh! Ian… fuck…!” pekik Luna tertahan, kuku-kukunya mencakar bahu tuksedo Jovian hingga meninggalkan bekas merah panjang. Wajahnya menegang, matanya memutih sesaat saat merasakan diameter masif Jovian merobek kedinginan di dalam dirinya, mengisi setiap sudut rahimnya dengan panas yang membara. “Besar sekali… ahh… ini penuh sekali… ini sangat nikmat…!” jerit Luna, tubuhnya melengkung, payudaranya yang kencang bergoyang-goyang di depan wajah Jovian. Ia mulai memacu pinggulnya dengan ritme yang lambat namun menghujam sampai ke dasar. Saat Jovian menghujam masuk sepenuhnya, sensasinya luar biasa. Liang Luna yang panas, lembab, dan sangat sempit menjepit batangnya seperti beludru hidup yang berdenyut rakus. Setiap inci masuk terasa seperti masuk ke surga yang basah dan licin, dinding-dinding dalamnya menggeliat, menggenggam, dan menghisap kejantanan Jovian seolah tak ingin melepaskan. Cairan gairah Luna yang sudah meluber sejak tadi langsung membasahi pangkal batang Jovian, menetes dera
Baca selengkapnya