“Siapa?” batin Malora panik, otaknya yang selalu licik kini berputar liar, mengais kepingan memori di antara ratusan pria yang pernah ia hancurkan. Jantungnya berdebar tak karuan, seolah alarm bahaya berbunyi di setiap nadinya. “Tatapan itu… tatapan tajam yang menusuk itu. Pria yang perusahaannya kurebut habis-habisan belasan tahun lalu… tidak. Tidak mungkin. Aditya sudah mati. Pemuda ini hanyalah tikus jalanan, asisten rendahan putriku.”Namun, sebelum Malora sanggup menarik benang merah kewarasannya di tengah kabut gairah yang menyiksa celana dalamnya, Jovian bergerak lebih dulu. Malora memang terkenal kejam, dingin, dan penuh perhitungan, tapi kali ini, di bawah tekanan emosi yang bercampur aduk benteng pertahanannya mulai retak. Apalagi, benda panas, tebal, dan keras di telapak tangannya ini, seolah memiliki daya magis yang melumpuhkan semua logikanya. Sensasi deny
Baca selengkapnya