Vandella, dengan jemari lentiknya, mengusap punggung lebar Jovian. Gerakannya lambat, hampir seperti sebuah ritual pemujaan. Ia membiarkan ujung kuku-kukunya sesekali menggores ringan kulit pria itu, membuat Jovian bergidik tanpa suara. Rambut Jovian yang masih lembap oleh peluh menjadi tempat persembunyian jemari Vandella selanjutnya, meremas pelan helai-helai hitam itu seolah ingin memastikan bahwa pria ini benar-benar ada di bawah kendalinya.Ia mendongak pelan, membiarkan dadanya yang kenyal bergesekan dengan otot dada Jovian yang kokoh. Bibirnya, yang masih sedikit bengkak karena ciuman panas sebelumnya, menyapu garis rahang Jovian dengan kecupan-kecupan seringan bulu, namun membakar, lalu berbisik dengan nada manja yang penuh rasa ingin tahu.“Jovian…” bisiknya, suaranya serak, rendah, dan membawa nada manja yang berbahaya. “Boleh aku tanya sesuatu?”Jovian hanya membalas dengan gumaman rendah di tenggorokan. Matanya terpejam erat, seolah-olah ia sedang berusaha menahan sisa-sis
Mehr lesen