Di dalam kamar yang terkunci rapat, Ruby duduk di depan laptopnya. Layar itu menyala terang, menampilkan barisan kalimat tentang pengkhianatan yang baru saja ia ketik. Namun, jari-jarinya bergetar. Fokusnya buyar. Di luar pintu, ia bisa mendengar langkah kaki Reza yang berat, mondar-mandir seperti macan yang terkurung."By, buka pintunya. Kita makan malam dulu, gue udah beliin martabak kesukaan lo," suara Reza terdengar rendah, mencoba merayu.Ruby diam. Ia sengaja memakai headphone meski tidak memutar lagu apa pun. Ia ingin membangun benteng. Ia ingin Reza tahu bahwa dia bukan lagi Ruby yang bisa luluh hanya dengan sebungkus martabak atau pelukan hangat. Hatinya masih perih membayangkan senyum Reza untuk Dina tadi siang."By? Gue tau lo denger. Jangan kayak anak kecil deh," nada bicara Reza mulai berubah, ada sedikit rasa frustrasi di sana.Tiba-tiba, suara langkah kaki itu menjauh. Ruby mengira Reza menyerah dan akan tidur di sofa. Namun, beberapa menit kemudian, terdengar bunyi kla
Last Updated : 2026-05-10 Read more