Teilen

Bab 52 Berubah

last update Veröffentlichungsdatum: 09.05.2026 02:58:00

Di dalam taksi yang melaju menjauhi bengkel, Ruby menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Pemandangan Jakarta yang semrawut di luar sana seolah mencerminkan isi kepalanya. Air mata yang sempat menggenang akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat.

"Pelarian," bisiknya lirih, hampir tak terdengar di antara deru mesin mobil.

Kata itu terasa begitu tajam, lebih menyakitkan daripada mual di perutnya. Ruby tertawa getir. Selama ini ia merasa bahwa dialah pemenang dalam hidup Reza. Dialah yang
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 109 Lorong sempit

    "Reza?" panggil Ruby dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sebuah helaan napas lega terdengar dari sosok di depannya. Kedua lengan kokoh itu kemudian merengkuh tubuh mungil Ruby, menariknya ke dalam pelukan yang luar biasa hangat dan protektif. Wajah pria itu tenggelam di ceruk leher Ruby, mengecupnya berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur."Iya, ini aku, By. Maaf aku bikin kamu ketakutan setengah mati. Aku harus bergerak cepat dan tanpa suara supaya keparat di atas sana tidak menyadari keberadaanku," ucap Reza, suaranya terdengar sedikit serak menahan emosi.Tangis Ruby akhirnya pecah. Ia membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza. Tangannya meremas kemeja flanel yang dikenakan pria itu seolah takut Reza akan menghilang jika ia melepaskannya. Seluruh rasa takut, teror, dan keputusasaan yang menyiksanya sejak sore tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Su

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 108 Tenang sayang

    Kembali ke ruang tangga yang gelap gulita. Ketegangan antara dua saudara beda ibu yang saling membenci itu terasa sangat mematikan. Umpatan anak haram dari mulut Vico tidak membuat genggaman Dimas mengendur, justru sebaliknya. Cengkeraman tangan Dimas di pergelangan Vico semakin menguat hingga terdengar bunyi retakan kecil dari tulang sendi pria itu.Vico meringis kesakitan, namun tawanya masih belum berhenti."Kau mencuri ayahku. Kau mencuri posisiku di perusahaan ini. Dan sekarang, kau pikir kau bisa memiliki wanita itu sendirian?" ejek Vico dengan mata yang menyala-nyala di tengah kegelapan, menantang maut yang berada tepat di depan wajahnya. "Aku sudah menyelidikinya, Dimas. Aku tahu Ruby bukan siapa-siapamu. Dia sudah bersuami. Tapi kau sangat terobsesi padanya, bukan? Kau menginginkan wanita itu lebih dari apa pun. Sama seperti ayahmu yang terobsesi pada ibumu."Dimas semakin menekan lengan Vico ke dinding beton. Otot-otot di rahangnya menonjol keras. Ia tidak terpancing untuk m

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 107 Flashback

    "Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"Mendengar ancaman kejam tersebut, Vico yang sedang terpojok dan kesakitan justru tidak menunjukkan rasa gentar. Alih-alih memohon ampun, bahu Vico perlahan bergetar. Sebuah tawa yang sangat sumbang, parau, dan berlumuran darah keluar dari celah bibirnya yang hancur. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema mengerikan di dalam rongga tangga, seolah mengejek seluruh kekuasaan dan ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang CEO.Vico menatap Dimas dengan senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat yang sudah mengak

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 106 Pertarungan

    Kesunyian yang mencekam di dalam ruang tangga darurat itu mendadak pecah. Saat Dimas masih mengarahkan cahaya senternya ke arah bordes atas yang kosong, indra pendengarannya yang tajam menangkap sebuah desiran angin halus tepat dari arah titik buta di belakang tubuhnya. Sebuah pergerakan yang sangat cepat dan mematikan membelah kegelapan.BUGH!Satu hantaman benda tumpul yang luar biasa keras menghantam punggung Dimas, tepat di antara kedua tulang belikatnya. Benturan itu begitu kuat hingga menciptakan gema tumpul yang mengerikan di dinding beton. Dimas mengerang tertahan, suaranya serak menahan rasa sakit yang luar biasa.Tubuhnya yang kokoh dan tegap terdorong paksa ke depan, hampir saja terjerembab menuruni rentetan anak tangga curam di bawahnya. Namun, dengan insting keseimbangan seorang predator, Dimas berhasil mencengkeram erat pegangan tangga besi yang berkarat, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh terguling.Napas Dimas mendesis melalui sela-sela giginya. Rasa panas menjala

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 105 Hilang

    Cahaya putih dari senter ponsel Dimas menjadi satu-satunya pemandu mereka membelah lautan kegelapan di lorong lantai itu. Mereka berjalan perlahan dengan langkah yang terukur dan berhati-hati. Dimas berada di depan, bahu lebarnya seolah menjadi tameng pelindung bagi Ruby yang mengekor rapat di belakangnya. Suasana sunyi yang mencekam di dalam gedung pencakar langit itu membuat suara gesekan sol sepatu mereka di atas karpet lantai terdengar sangat keras dan bergema.Tepat ketika mereka hampir mencapai persimpangan lorong yang mengarah ke pintu darurat bercat merah pudar, ujung cahaya senter Dimas menangkap sebuah pergerakan yang sangat cepat. Sesosok bayangan hitam yang cukup besar berkelebat menyeberangi ujung lorong, menghilang dengan mulus di balik tikungan menuju area toilet tamu.Napas Ruby seketika tertahan di tenggorokan. Kakinya berhenti melangkah secara refleks. Sebagai seorang penulis novel fiksi yang imajinasinya selalu bekerja lebih cepat dari realita, pikiran Ruby langsung

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 104 Tak ada satupun

    Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dimas mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Ruby. Pria itu membalikkan badan dan menarik tubuh mungil wanitanya secara paksa untuk menjauh dari area kantin. Ruby tertatih-tatih mengikuti langkah lebar sang CEO, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri karena masih dalam keadaan syok berat.Di belakang mereka, Vico masih terkapar mengenaskan di atas lantai porselen yang dingin, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang memar. Darah segar menetes dari sudut bibir sang rubah, namun Dimas sama sekali tidak menoleh ke belakang. Bagi pria berhati es itu, Vico tidak lebih dari sekadar lalat pengganggu yang sudah pantas mendapatkan pelajarannya.Sepanjang perjalanan kembali menuju lantai lima puluh, keheningan di dalam lift eksekutif terasa sangat mencekik. Ruby menyudutkan dirinya di pojok lift, menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Sementara Dimas berdiri tegap di sampingnya, dengan tenang merapikan kerah

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 10 Tahan, Za!

    Reza melompat turun dari bingkai jendela kamar Ruby dengan kelincahan seorang predator yang baru saja menyelesaikan perburuan paling memuaskan dalam hidupnya.Begitu kakinya menyentuh rumput halaman yang basah oleh embun, udara malam yang dingin langsung menusuk pori-porinya. Namun, rasa dingin itu

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 9 Permainan lidah

    Dunia Ruby kini hanya terdiri dari suara napas dan sentuhan. Karena matanya tertutup, setiap inci kulitnya mendadak memiliki "nyawa" sendiri, berdenyut menanti apa yang akan dilakukan Reza selanjutnya.Reza tidak terburu-buru. Ia tahu persis bagaimana cara menyiksa korbannya dengan antisipasi. Ia m

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 8 Ssstt, diem!

    Sisa semburat jingga di cakrawala sudah lama menghilang, berganti dengan pekatnya malam yang menyelimuti perumahan itu. Ruby, yang sejak siang berkutat dengan barisan kata di layar laptopnya, akhirnya tumbang.Kelelahan mental karena memeras otak untuk adegan romansa yang tak kunjung selesai membua

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 7 Foto 21+

    Suasana di lorong sempit itu mendadak jauh lebih berbahaya daripada ancaman satpam di luar sana. Cahaya senter tetangga akhirnya menjauh, diikuti suara gerutu dan pintu yang dibanting menutup. Keheningan malam kembali turun, namun napas mereka berdua justru semakin menderu.Reza tidak segera melepa

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status