Napas Ruby tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan ritme yang tak beraturan. Setelah pergumulan panjang yang menguras habis sisa tenaganya, Reza akhirnya menepati kata-katanya. Pria itu melepaskan kungkungannya, berguling ke sisi ranjang, dan menarik Ruby ke dalam pelukan hangatnya yang basah oleh keringat. Tiga ronde di pagi buta ini benar-benar membuat persendian Ruby serasa diloloskan paksa dari tempatnya."Janji, ya?" bisik Reza dengan suara serak yang parau, mengecup puncak kepala istrinya dalam-dalam. "Pulang kantor, kita lanjut ronde keempat. Aku belum puas nebus waktu kita yang hilang berminggu-minggu ini."Ruby, yang jangankan untuk berdebat, untuk bernapas normal saja masih kesulitan, hanya bisa mengangguk pasrah."Iya, Za... iya, janji," sungut Ruby dengan bibir mengerucut. Ia bersusah payah mendorong dada bidang suaminya agar menjauh. "Sekarang awas, aku mau mandi lagi! Bisa telat meeting redaksi aku nanti gara-gara kamu."Reza tertawa puas, suara tawanya menggema bera
Última atualização : 2026-05-25 Ler mais