بيت / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 85 Janji palsu

مشاركة

Bab 85 Janji palsu

مؤلف: Penulis Hoki
last update تاريخ النشر: 2026-05-25 02:18:23

Napas Ruby tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan ritme yang tak beraturan. Setelah pergumulan panjang yang menguras habis sisa tenaganya, Reza akhirnya menepati kata-katanya. Pria itu melepaskan kungkungannya, berguling ke sisi ranjang, dan menarik Ruby ke dalam pelukan hangatnya yang basah oleh keringat. Tiga ronde di pagi buta ini benar-benar membuat persendian Ruby serasa diloloskan paksa dari tempatnya.

"Janji, ya?" bisik Reza dengan suara serak yang parau, mengecup puncak kepala istr
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 92 Jam wecker

    Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus celah-celah kaca gedung Genta Pustaka dengan kejam, seolah menelanjangi setiap kegelisahan yang berkecamuk di dalam dada Ruby. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri koridor lantai redaksi. Semalam ia nyaris tidak tidur; tubuhnya masih terasa remuk redam akibat hukuman bertubi-tubi dari Reza, sementara otaknya terus bekerja merumuskan strategi gila untuk menghadapi Dimas Adiwijaya.“Ingat rencanamu, Ruby. Jangan menangis, jangan meronta. Menolak dia justru bikin dia makin napsu. Kamu harus jadi mangsa yang gampangan biar dia ilfeel dan pergi,” mantra itu terus digaungkan Ruby di dalam hatinya seperti sebuah kata penyelamat.Begitu sampai di depan pintu ruangan Dimas, Ruby menarik napas dalam-dalam, memoles wajahnya dengan ekspresi sedatar mungkin, lalu memutar knop pintu.Cklek.Belum sempat Ruby melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, sebuah pergerakan cepat dan tak terduga menyergapnya. Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 91 Sampai pagi

    Suasana di ruang tamu yang mendadak benderang terasa begitu mencekam bagi Ruby. Jantungnya berdentum sangat keras, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Tatapan mata Reza yang menuntut penjelasan tepat mengarah pada ruam kemerahan yang kini membengkak di pangkal lehernya—sebuah mahakarya keji yang ditinggalkan oleh Dimas Adiwijaya beberapa jam lalu di pantry kantor."By..." suara Reza terdengar berat, ada nada sangsi sekaligus bingung yang amat kentara. "Memangnya tadi pagi gigitan aku sakit banget, ya? Sampai membesar dan lebam kayak begini?"Pertanyaan itu bagaikan hantaman godam yang membuat seluruh pasokan oksigen di sekitar Ruby lenyap. Lidahnya seketika mendadak kelu, dan tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ruby gelagapan. Sudut matanya bergerak gelisah, menghindari kontak mata langsung dengan suaminya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berputar dengan kecepatan penuh demi mencari alasan yang masuk akal.“Aku harus jawab apa? Kalau aku bilang ini bukan be

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 90 Membesar

    Lampu-lampu jalanan ibu kota mulai menyala, menggantikan semburat jingga di ufuk barat dengan cahaya kuning neon yang berpendar menembus kaca mobil. Di bangku penumpang, Ruby duduk bersandar dengan bahu yang terasa kaku. Matanya menatap lurus ke arah kemacetan lalu lintas, namun pikirannya melayang entah ke mana.Di sebelahnya, Reza memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang bebas bersandar di atas tuas persneling. Suasana di dalam kabin mobil yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi Ruby untuk mencurahkan segala isi hatinya, justru terasa sangat canggung dan dingin.Sebenarnya, sejak keluar dari gedung Genta Pustaka, Ruby sudah menyusun ratusan skenario di dalam kepalanya. Ia ingin menceritakan semuanya. Ia ingin menangis di pelukan Reza, mengadukan betapa brengseknya Dimas Adiwijaya yang menjebaknya semalam dan melecehkannya di dalam pantry siang tadi. Ia sangat butuh perlindungan suaminya.Namun, niat itu hancur berkeping-keping tepat lima belas menit

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 89 Tidak tertarik

    Ketegangan yang mengendap tebal di udara pasca panggilan telepon dari Reza belum sepenuhnya menguap ketika pintu kaca ruangan semi-terbuka itu tiba-tiba diketuk pelan. Baik Dimas maupun Ruby secara refleks menoleh.Dari ambang pintu, muncullah Tari, salah satu editor naskah fiksi yang bertugas di tim redaksi. Wanita itu melangkah masuk dengan senyum yang direkahlkan selebar dan semanis mungkin. Bunyi ketukan sepatu hak tingginya berirama genit di atas lantai marmer, seiring dengan pinggulnya yang sedikit diayunkan lebih dari biasanya. Di pelukannya, terdapat sebuah map folio berisi dokumen yang butuh persetujuan segera."Permisi, Pak Dimas, Mbak Ruby... Maaf mengganggu waktunya sebentar," sapa Tari dengan nada suara yang sengaja ditinggikan setengah oktaf, membuatnya terdengar lebih manja dan renyah."Ada apa?" tanya Dimas datar, wajahnya kembali mengenakan topeng bos besar yang profesional dan tak tersentuh.Tari melangkah mendekati meja Dimas, sengaja mengambil rute memutar yang mem

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 88 Fantasi Dimas

    Sisa hari itu berjalan dengan udara yang terasa jauh lebih berat bagi Ruby, namun berbunga-bunga bagi Dimas Adiwijaya. Di lantai divisi redaksi yang luas dan sibuk, Dimas memilih untuk diam sambil menduduki salah satu kursi kebesaran di meja ujung ruangan yang hanya dibatasi oleh partisi kaca transparan, memberikannya sudut pandang yang sempurna dan tanpa halangan ke arah meja kerja Ruby.Sejak insiden di dalam pantry berjam-jam yang lalu, ada sesuatu yang sangat berbeda dari sosok Dimas. Pria aristokrat yang biasanya memancarkan aura dingin, profesional, dan tak tersentuh itu kini terus-menerus mengukir senyum di wajah tampannya. Senyum itu bukan senyum ramah biasa, melainkan seringai tipis yang sarat akan kepuasan absolut.Beberapa karyawan sempat heran melihat bos besar mereka tampak begitu bahagia. Dimas dikenal sebagai bos yang baik dan dermawan, tidak pernah membentak atau marah meledak-ledak, namun ia sangat pelit senyum. Auranya selalu mengintimidasi. Namun hari ini, pria itu

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 87 Curiga

    "Kejadian... panas?"Alis Ruby berkerut dalam. Jantungnya yang semula berpacu karena ketakutan, kini berdebar dengan ritme kebingungan yang membingungkan. Otaknya berputar keras, berusaha menggali ingatan yang hilang. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi setelah ia meminum cocktail buah di restoran semalam. Namun, hasilnya nihil. Kepalanya hanya berdenyut nyeri, menyajikan kegelapan pekat tanpa satu pun potongan gambar yang tersisa."Kamu bicara apa, Dimas? Lepaskan saya!" Ruby mendesis marah, kembali mencoba memberontak dari rengkuhan Dimas yang terasa seperti jeruji besi.Dimas sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Sebaliknya, senyum tipis di bibir pria itu semakin melebar, menyiratkan kepuasan yang teramat sadis. Dengan gerakan yang sangat santai dan terkendali, Dimas menggunakan tangan kirinya untuk menahan pinggang Ruby agar wanita itu tidak bisa lari dari atas meja wastafel, sementara tangan kanannya merogoh saku dalam jas navy-nya.Pria itu mengeluarkan ponsel pintarn

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status