Senin pagi datang terlalu cepat.Kaluna berdiri di depan cermin kamar, blazer krem terpasang rapi, rambutnya digelung elegan. Wajahnya tampak profesional seperti biasa.Tapi pikirannya tidak setenang tampilannya.Ucapan Kanaya, ucapan ayah, ucapan bunda di meja makan kemarin tentang perbedaan status sosial, memalukan, turun kelas, sungguh membebani pikiran Kaluna. Kaluna menarik napas panjang.“Fokus,” bisiknya pada diri sendiri.Jam 07.45 tepat, mobil operasional sudah menunggu di depan mansion. Seperti biasa.Satria berdiri di samping pintu mobil, membuka pintu belakang untuknya.“Selamat pagi, Nona.”Nada itu stabil. Hangat. Tidak berubah.Kaluna menatapnya sepersekian detik terlalu lama.Kalau pria ini tiba-tiba mengatakan, aku suka sama kamu … Apakah aku akan menolak?Jawabannya muncul tanpa izin.Tidak.Di matanya, Satria hebat.Cerdas.Penuh perhatian.Stabil.Dan—tanpa pernah mengataka
Read more