Home / Romansa / Menantang Kasta / Cemburunya Kaluna

Share

Cemburunya Kaluna

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-03-06 07:06:57

Suatu siang beberapa hari setelah memergoki Nadia sedang menggoda Satria, Kaluna keluar dari ruangannya menuju pantry kecil.

Dan lagi-lagi ia melihat pemandangan yang tidak ia minta.

Kali ini karyawati berbeda. Dari divisi event. Putri.

“Pak Satria, boleh minta tolong antar aku ke vendor percetakan? Aku enggak ngerti spek teknisnya .…”

Demi apa itu karyawati nada suaranya merengek seperti anak kecil minta dibelikan ice cream.

Kaluna jijik sekali dengan sikap karyawati tersebut apalagi dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
sevenseasof7
satria kan sekretaris ceo.. knp di suruh2 sm bawahan lain? agak aneh sih...
goodnovel comment avatar
carsun18106
davanka ngeh niii
goodnovel comment avatar
carsun18106
satria sengaja dateng utk nge cek kaluna juga ni kykny
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Ratu Dan Zyandru

    Setelah makan malam selesai, suasana rumah masih hangat oleh obrolan ringan kemudian Ratu perlahan berdiri dari kursinya.“Bu… Pak… Ratu balik ke kosan ya,” katanya pelan.Ibu Ratna langsung menoleh. “Lho, sekarang? Udah malam, Neng.”“Iya, Bu… besok aku ada kuliah pagi,” jawab Ratu, mencoba tersenyum.Bapak Sutisna mengangguk pelan, memahami. “Oh iya… kuliah.”Zyandru yang sejak tadi diam memperhatikan, langsung menyela santai, “Kalau gitu… aku anter aja, Pak.”Ratu menoleh cepat. “Enggak usah—”“Aku ‘kan mau ke rumah teman di Bandung,” lanjut Zyandru ringan, alasannya kini berguna juga.Bapak dan Ibu saling pandang, lalu tersenyum.“Ya sudah kalau begitu,” kata Bapak akhirnya. “Ratu, hati-hati ya.”“Iya, Pak … Ratu beres-beres dulu.” Ratu membawa piring kosongnya ke dapur lalu masuk ke dalam kamar.“Titip Ratu ya, Nak Zyandru,” tambah Ibu Ratna.Zyandru mengangguk mantap. “Siap, Bu.”Beberapa menit kemudian, Ratu kembali dengan tas pakaian kecil di tangannya.Zyandru y

  • Menantang Kasta   Keluarga Sederhana

    “Nak Zyandru, ayo masuk dulu …,” ajak bapak Sutisna ramah sembari turun dari mobil.“Oh boleh Pak … Terimakasih.” Zyandru turun dari mobil mewahnya.Dia memaksa ingin mengantar kedua mertua dan adik iparnya sang kakak hanya agar bisa memiliki banyak waktu dengan Ratu.Zyandru memindai sekitar, terpesona dengan keindahan alam yang masih asri di sekitar rumah bapak Sutisna dan ibu Ratna.“Sejuk ya Pak … Bu … enggak kaya di Jakarta.” Zyandru bergumam.“Menginap saja di sini, besok pulangnya.” Ibu Ratna memberi ide.“Iya … Nak Zyandru bisa tidur di kamar Satria.” Bapak menyambut dengan senang hati ide istrinya itu.Zyandru tertawa pelan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Pasalnya dia sampai berbohong kepada ayah bunda dengan mengatakan akan bertemu teman-temannya padahal pergi ke Bandung mengantar sang pujaan hati.“Lain kali ya, Pak … soalnya bunda pasti nyariin ini … dari kemarin aku enggak pulang.” Zyandru keceplosan.“Loooh, katanya mau ketemu teman di Bandung,” celetuk

  • Menantang Kasta   Malam Pertama Setelah Menikah

    Langkah mereka pelan saat kembali menyusuri jalur kayu menuju cottage.Angin malam terasa lebih dingin dibanding sore tadi, tapi justru itu yang membuat suasana semakin tenang. Lampu-lampu kecil di sepanjang dermaga menyala temaram, memantulkan cahaya di permukaan laut yang kini gelap dan berkilau seperti kaca.Kaluna masih menggenggam tangan Satria.Tidak erat tapi tidak ingin dilepas.Begitu sampai di depan cottage, Satria membuka pintu lebih dulu, lalu membiarkan Kaluna masuk.Lampu otomatis menyala lembut.Suasana di dalam terasa hangat dan privat.Seolah dunia luar benar-benar tertinggal di belakang.Kaluna langsung melepas sandal, melangkah masuk ke dalam, lalu berhenti di tengah ruangan.Menarik napas panjang.“Capek… tapi happy,” gumamnya.Satria menutup pintu, lalu berjalan mendekat dari belakang.Tangannya otomatis melingkar di pinggang Kaluna.Dagu pria itu bersandar di bahu sang istri.“Capeknya bisa k

  • Menantang Kasta   Terasa Lengkap

    Mereka harus menyusuri dek kayu lagi tapi kali ini tanpa buggy karena tidak terlalu jauh apalagi langit malam ini begitu indah bertabur bintang.“Jangan liat ke atas terus, nanti kecebur lho,” goda Satria dibalas tawa pelan Kaluna.Kaluna memeluk lengan berotot Satria agar jika nanti tercebur, pria itu pun ikut bersamanya.Beberapa langkah kemudian mereka sampai restoran resort di deket dermaga, posisinya setengah menggantung di atas laut.Lampu-lampu kecil berwarna keemasan menggantung di sepanjang atap, memantulkan cahaya lembut ke permukaan air yang tenang. Ombak kecil terdengar berirama, seperti musik latar alami yang tidak bisa ditiru manusia.Seorang pelayan langsung menyambut dengan senyum ramah.“Good evening, Mr. and Mrs. Wirakusuma. Your table is ready.”Satria mengangguk sopan, lalu tanpa sadar kembali meraih tangan Kaluna.Seolah itu sudah menjadi refleks barunya.Mereka diarahkan ke meja paling ujung.Private.Menghadap langsung ke laut lepas.Hanya ada satu m

  • Menantang Kasta   Pulau Tropis

    Pesawat mendarat dengan mulus di sebuah pulau tropis yang dikelilingi lautan biru jernih sejauh mata memandang.“Sayang … udah sampai,” bisik Satria di telinga Kaluna yang sedang dia peluk dari belakang.Kaluna membuka mata, Satria melepaskan pelukan agar sang istri bisa meregangkan tubuh.“Tuan dan Nyonya … kita sudah sampai,” kata awak kabin ramah.“Sebentar, kami bersiap dulu.” Satria meminta waktu karena Kaluna baru saja bangun.Wanita muda itu pergi dan kembali membawa air mineral dalam gelas tanpa diminta.Satria menerimanya dan memberikan kepada Kaluna.“Minum dulu sayang.”Selagi Kaluna menghabiskan air di dalam gelas, wanita muda awak kabin itu memperhatikan Satria yang sejak memasuki pesawat dan terbang selama belasan jam—pria itu tidak berhenti melayani istrinya.Bukan sebagai asisten tapi layaknya pria sejati.Setelah dirasa Kaluna sudah siap untuk turun, barulah Satria bangkit dari kursi empuk itu lalu membantu Kaluna berdiri.Begitu pintu kabin terbuka, udara

  • Menantang Kasta   Perjalanan Honeymoon

    Malam itu belum benar-benar berakhir ketika rombongan mulai bubar dari restoran.Ucapan selamat masih tersisa di udara.Pelukan hangat.Tawa yang perlahan mereda.Namun untuk Kaluna dan Satria—malam itu justru baru dimulai.Mobil kembali berhenti di depan mansion Davanka, tidak lama hanya untuk mengambil koper yang sudah disiapkan sebelumnya.Kaluna masih mengenakan kebayanya. Rambutnya masih tersusun rapi dan raut wajahnya kini sudah jauh lebih tenang.Satria turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuknya.“Siap?” tanyanya pelan.Kaluna mengangguk kecil.“Siap donk ….”Namun begitu mereka melangkah keluar halaman—sebuah mobil hitam panjang sudah menunggu.Bukan mobil biasa. Lebih elegan. Lebih… eksklusif.Seorang pria berseragam rapi membuka pintu.“Selamat malam, Tuan dan Nyonya,” ucapnya sopan.“Saya yang akan mengantar ke bandara privat atas perintah nyonya Alterio.”Kaluna menoleh cepat ke Satr

  • Menantang Kasta   Niat Baik Yang Dibalas Buruk

    Langkah Satria berhenti di depan pintu besar itu.Pintu ruang kerja pimpinan tertinggi AG Group.Beberapa detik ia hanya berdiri.Bukan apalagi takut tapi sedang mempertimbangkan kalau apa yang akan ia lakukan ini adalah langkah yang benar.Akhirnya Satria mengangkat tangan.Mengetuk pintu.

  • Menantang Kasta   Resign

    Satria mendongak menatap gedung yang menjulang tinggi.Kaca-kaca besar memantulkan cahaya matahari siang, memberi kesan dingin, profesional, dan eksklusif.Satria berdiri sejenak di depan lobby.Tangannya menggenggam map berisi dokumen.Ada gugup, tapi itu wajar karena hari ini bukan sekadar in

  • Menantang Kasta   Merasa Gagal Sebagai Ibu

    Malam itu, langkah Kaluna terasa lebih pelan dari biasanya ketika memasuki mansion.Sepatu heels yang biasanya berdenting tegas di lantai marmer kini terdengar lirih. Seolah setiap langkahnya membawa beban yang tidak terlihat.Lampu ruang keluarga masih menyala.Dan seperti yang su

  • Menantang Kasta   Penghinaan Dari Andre

    Matahari siang itu begitu terik.Debu tipis beterbangan di area proyek pesisir yang sedang dalam tahap pembangunan awal. Suara alat berat bersahutan, berpadu dengan teriakan para mandor yang mengatur ritme pekerjaan.Kaluna menatap ke sekeping dengan helm proyek di kepala.Kacamata hitamnya menu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status