Beranda / Romansa / Menantang Kasta / Bukan Lagi Profesionalisme

Share

Bukan Lagi Profesionalisme

Penulis: Erna Azura
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 13:23:00

Sepanjang perjalanan pulang dari gala dinner, Kaluna tidak banyak bicara.

Kama sendiri sibuk mematuti ponselnya membalas chat dan email jadi tidak menyadari kegalauan Kaluna.

Bayangan Putri berdiri terlalu dekat dengan Satria terus terputar di kepala Kaluna.

“Pak Satria tadi bantu aku banget…”

Aku.

Bukan saya.

Kenapa harus senyum begitu?

Kenapa harus berdiri sedekat itu?

Kenapa harus “jadi ‘kan kita cek lighting”?

Mobil berhenti di halaman mansion.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Ferinda Yanti
one step lebih deket ya lun...
goodnovel comment avatar
carsun18106
lagian heran juga si satria, sbg sekretaris/pa dari ceo kok sempet2ny bantuin divisi lain
goodnovel comment avatar
Leocell Ngantru
puasa -puasa bikin baper orang....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menantang Kasta   Tidak Pernah Sendirian

    Namun meski suasana meeting mulai berubah positif—Satria belum benar-benar bisa bernapas lega.Karena dia tahu—dunia bisnis sebesar Alterio Corp tidak mungkin mengambil keputusan hanya berdasarkan presentasi.Dan dugaan Satria ternyata benar.Salah satu pria berusia sekitar lima puluh tahunan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara. “We’re impressed.”Satria mengangguk sopan. “Thank you.”Pria itu melanjutkan sambil menyilangkan jemarinya di depan wajah.“But for this scale of partnership…” Ia menjeda. “…we need proof.”Kaluna menegakkan punggungnya.Sedangkan ekspresi Satria tetap tenang.Pria asing kembali bicara. “We need product samples.”Slide presentasi berhenti.Seluruh peserta meeting kini benar-benar fokus pada Satria.Direktur purchasing ikut menimpali.“Fresh produce samples, Packaging quality. Temperature resistance. Storage durability. And consistency.”Satria mendengarkan semuanya tanpa memotong sedikit pun.Lalu perlahan—pria itu mengangg

  • Menantang Kasta   Rezeki Anak

    Pagi itu—Satria terlihat jauh lebih sibuk dibanding biasanya.Laptop menyala sejak subuh.Tablet penuh catatan.Beberapa file proposal tercetak rapi di atas meja.Dan di sampingnya—ada secangkir kopi yang mulai dingin karena tidak disentuh sama sekali.Hari ini adalah hari penentuan.Hari di mana proposal bisnis yang dia buat selama berhari-hari akan dipresentasikan di hadapan pihak Alterio Corp regional Amerika dan Asia.Jika mereka setuju—maka hidupnya mungkin benar-benar akan berubah.Dan sekarang—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—Satria kembali merasakan tekanan besar itu.Tekanan yang dulu biasa dia hadapi saat masih bekerja di AG Group.Bedanya dulu dia hanya mempertaruhkan karier.Sekarang dia mempertaruhkan masa depan istri dan anaknya.Menjelang malam—udara Lembang semakin dingin.Kabut mulai turun di luar jendela.Rumah sudah lebih sepi dari tadi siang.Ibu masuk kamar lebih cepat, katanya beliau akan membantu Satria melalui jalur langit.Bapak bahkan

  • Menantang Kasta   Berjuang Untuk Anak Dan Istri

    Sejak kabar bahagia itu muncul—suasana rumah berubah menjadi jauh lebih ramai.Ibu beberapa kali menangis sendiri sambil tersenyum.Bapak berkali-kali mengucap syukur.Ratu bahkan sudah sibuk searching nama bayi padahal usia kandungan Kaluna saja belum jelas berapa minggu.Sedangkan Satria masih terlalu diam.Kaluna yang paling mengenalnya tentu sadar.Pria itu bahagia. Tampak bahagia.Namun di balik sorot mata hangatnya—ada ketakutan besar yang sedang dia sembunyikan.Dan Kaluna tahu persis ketakutan itu berasal dari mana.Kehamilan ektopik sebelumnya masih membekas.Terlalu sulit dilupakan. Siang harinya—mereka memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi kandungan Kaluna.“Aku ikut!” seru Ratu cepat.“Enggak usah.”Satria menjawab tegas sambil mengambil kunci mobil.Ratu mengerucutkan bibir.“Iiih jahat.”Kaluna tertawa kecil. “Doain aja ya.”Ratu akhirnya mengangguk pasrah.

  • Menantang Kasta   Kabar Bahagia

    Perjalanan pulang menuju Bandung terasa jauh lebih tenang.Kaluna tertidur di bahu Satria hampir sepanjang penerbangan.Sementara Satria hanya diam menatap keluar jendela kecil pesawat.Langit sore perlahan berubah jingga.Dan setelah sekian lama—dadanya terasa sedikit lebih ringan.Tentang ayah Kama.Tentang pekerjaan.Tentang harga dirinya.Entah kenapa … semua mulai terasa menemukan jalan.***Udara dingin Lembang langsung menyambut ketika mobil yang Satria kemudikan berhenti di depan rumah.Belum sempat Satria turun dengan sempurna—pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.“Lunaaa!”Ibu keluar sambil tersenyum lebar.Bahkan celemek masaknya masih menempel di tubuh.Kaluna langsung tertawa kecil.“Buuuu….”Mereka berpelukan hangat.“Aku bawa oleh-oleh untuk Ibu, ayah dan Ratu.” Kaluna mengangkat paperbag di tangannya.“Waa … jadi ngerepotin.” Ibu tampak berbinar.“Enggak lah, ‘kan buat mertua kesayangan.”Sementara bapak menyusul keluar rumah sambil dengan sarung y

  • Menantang Kasta   Hari Terakhir Di Bali

    Hari terakhir di Bali datang terlalu cepat.Pagi itu langit Pulau Dewata begitu cerah.Langit biru tanpa awan membentang di atas laut yang berkilau terkena matahari.Dari balkon cottage mereka—Kaluna berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri.Dress tidur satin putihnya tertiup angin pantai.Rambut panjangnya bergerak lembut.Matanya menatap laut lepas dengan senyum kecil.Sementara di belakangnya—Satria baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.“Kamu ngapain bengong sendiri di sana, sayang?” tanyanya.Kaluna menoleh lalu tersenyum.“Aku lagi nyimpen memori.”Satria mengernyit. “Memori apa?”Kaluna berjalan mendekat.Tangannya melingkar di leher pria itu.“Memori kalau kita pernah bahagia banget di Bali.”Satria tertawa kecil.“Kita memang enggak bahagia di Lembang?”“Bahagia.” Kaluna cepat menjawab. “Banget malah.”“Terus?” Satu alis Satria terangkat.“Tapi ini beda.” Kaluna mendongak. “Ini pertama kalinya aku benar-benar ngerasa .…”

  • Menantang Kasta   Tampak Bahagia

    Pagi di villa privat itu dimulai dengan suara deburan ombak dan cahaya matahari Bali yang menembus tirai putih transparan.Satria membuka mata lebih dulu.Tangannya masih melingkar erat di pinggang Kaluna.Wanita itu masih tertidur di dadanya.Rambut panjangnya sedikit berantakan.Bibirnya sedikit terbuka.Dan entah kenapa—setiap pagi melihat wajah itu, dada Satria selalu terasa penuh.Tangannya naik. Menyingkirkan anak rambut di wajah Kaluna. Lalu mengecup keningnya lama.Cup.Kaluna menggeliat pelan. Bulu matanya berkedip.“Sayaang .…” Suaranya masih serak.Membuat Satria tersenyum.“Bangun yuk.”Kaluna justru memeluknya lebih erat. “Lima menit lagi.”Satria terkekeh. “Nanti sepupu kamu nikah tanpa kamu.”Kaluna langsung membuka mata.“Ya ampuuun, enggak boleh!”Dan sukses membuat Satria tertawa.Sekitar pukul empat sore—semua keluarga besar Gunadhya sudah berkumpul di area pantai pribadi.

  • Menantang Kasta   Karakter Kaluna Yang Sebenarnya

    Ruangan sunyi.Lampu temaram menciptakan bayangan lembut di wajahnya.Satria bersandar ke belakang sedikit, tetap dalam posisi duduk, tangan mereka masih saling menggenggam.Waktu berjalan.00.1800.4201.07Kantor sepenuhnya hening.Di sela keheningan itu,

  • Menantang Kasta   Senyum Sang Sekretaris

    Sampai di rumah, Kaluna disambut bunda dan ayah dengan senyum dan tatapan mencurigakan penuh tanya.“Sayang ….” Bunda mendekat lebih dulu, mengecup kedua belah pipinya.“Are you oke?”Kaluna menarik nafas panjang bersama pejaman mata sekilas.“Ada yang mau Kaluna bicarakan,” katanya sembari men

  • Menantang Kasta   Tidak Menyesalinya

    Perjalanan kembali ke Jakarta lebih hening dibanding pagi tadi.Kaluna lelah.Bukan hanya fisik, tapi juga mental.Survey berjalan sukses. Ia berhasil membuktikan kapasitasnya. Namun satu hal yang tidak bisa ia kuasai adalah pikirannya sendiri.Dan bibir itu.Setibanya di

  • Menantang Kasta   Apakah Hanya Mimpi?

    Brian menatap ke luar dinding kaca yang menampilkan pemandangan sungai Hudson.Tatapannya kosong, pundaknya terasa berat penuh dengan beban.Dia lantas melirik arloji mahal di pergelangan tangannya, sudah lima menit dia menunggu.Andaikan saja bukan Ryley yang mengajaknya bertemu, Brian pasti su

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status