“Kenapa diam?” Oma Hanna menatap Langit dengan sorot mata tajam yang penuh tekanan. Wajah wanita tua itu memerah menahan emosi, sementara dadanya naik turun tidak beraturan. “Mama duduk dulu, ya... Kita bicarakan baik-baik,” bujuk Aditya dengan suara hati-hati. Bersama Senja, ia menuntun Oma Hanna menuju kursi di meja makan. Namun bahkan setelah duduk, kemarahan Oma Hanna belum juga mereda. “Langit cepat jawab!!” ucapnya lagi dengan nada tinggi. Tetapi Langit tetap diam. Tatapannya justru tertuju pada Senja. Dalam, tajam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan dengan kata-kata. Senja sendiri tak mengerti arti tatapan itu. Mungkinkah, Langit memilih Laras dan putrinya? “Jangan diam saja! Cepat pilih, kamu mau Senja yang angkat kaki dari rumah ini atau wanita itu dan anaknya!” Suasana langsung terasa makin mencekam. “Biar saya yang pergi, Oma,” ujar Senja pelan, memilih mundur. Ia tidak sepercaya diri itu untuk berpikir Langit akan memilih dirinya. Senja han
Baca selengkapnya