Sejak sore, Laras sudah sibuk mondar-mandir di dapur rumah keluarga Bramantyo. Dengan cekatan ia mengatur menu makan malam, seolah dirinya benar-benar nyonya rumah di tempat itu. “Bik, potong dagingnya,” perintahnya pada salah satu ART tanpa ragu. Beberapa menu makan malam ia siapkan sendiri. Aroma masakan memenuhi seluruh dapur mewah itu. Hampir dua jam Laras berkutat di sana, mengaduk masakan, mencicipi bumbu, hingga mengatur penyajian makanan dengan penuh perhatian. Dari ujung tangga, Sarah memperhatikan semua itu dengan tatapan tajam. Ponsel di tangannya masih tersambung dengan Bumi. Sejak tadi ia melaporkan semua gerak-gerik Laras pada kakaknya. “Awasi saja. Jangan lakukan apa pun,” suara Bumi terdengar dari speaker ponsel. “Aku mau lihat sampai sejauh mana dia akan bermain.” “Iya, aku ngerti,” jawab Sarah pelan sebelum akhirnya memutus sambungan telepon. Setelah itu ia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Melihat Sarah datang, Laras yang sedang sibuk menata meja
Read more