Senja melotot tajam. Kakinya sudah hendak melangkah menyusul, saat tiba-tiba tangannya dicekal oleh Oma Hanna. “Kamu jangan salah paham, ya…” ucap Oma Hanna dengan nada tenang. “Sejak kecil, Winda memang paling dekat dengan Langit. Makanya sifatnya jadi sangat manja padanya.” Seketika, Senja mengurai senyum lebar. “Iya, Oma. Saya paham, kok,” jawabnya lembut. Lalu, menggandeng tangan Oma Hanna dengan hangat. “Ayo masuk, Oma,” ajaknya, membawa wanita itu masuk. Di ruang tengah, Langit dan Winda sudah duduk berhadapan di sofa panjang. Langit dengan wajah datarnya, sementara Winda terlihat begitu antusias. Ia bercerita panjang lebar, matanya tak lepas menatap Langit, tatapan yang dalam, penuh arti, seolah menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kedekatan biasa. Sesekali, tawa Winda pecah. Tangannya dengan santai memegang lengan Langit, seakan ingin menegaskan keakraban mereka. Sementara itu… Langit hanya diam. Tak menanggapi. Namun juga tidak menolak. Senja mendengus pelan. M
Read more