“Apa kalian bertengkar?” tanya Oma Hanna sambil memandang Langit lekat. Pria itu masih berdiri mematung, menatap ke arah pintu ruang tamu yang sudah tertutup sejak beberapa menit lalu, sejak Senja pergi tanpa menoleh lagi. “Langit,” panggil Oma Hanna lagi, suaranya sedikit meninggi. “Kamu dengar Oma tidak?” Langit menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, seolah berusaha menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya. “Dengar, Oma,” jawabnya akhirnya. Ia melangkah maju dan menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa. Bahunya turun, lelah. Bukan karena fisik, melainkan karena sesuatu yang tak kasat mata. Beban di pikirannya. “Ada apa? Apa kalian bertengkar?” tanya Oma Hanna lagi, mengulang pertanyaannya yang tadi diabaikan oleh Langit. “Nggak, Oma,” jawab Langit singkat. Ia diam sebentar, menarik nafas dalam sebelum kembali bicara, “Aku ada pekerjaan hari ini. Mungkin nanti malam nggak pulang. Karena itu malam ini Senja mau menginap di rumah orang tuanya sebelum berang
Read more