Peluru itu melesat di udara, berputar, memantulkan cahaya lampu dermaga. Jalurnya lurus, dingin, tak terbantahkan. Dan entah bagaimana—Bianca bisa melihatnya dengan sangat jelas, seolah dunia memberinya kesempatan untuk memilih.Jantungnya berdetak sekali.Dan dalam satu detik yang terasa seperti keabadian—tubuhnya bergerak.Bukan sekadar menghindar.Ia bergeser, nyaris tak terlihat, dan peluru itu melintas hanya sejauh satu sentimeter dari pipinya. Rambutnya berkibar tertiup angin dari lintasan proyektil itu, sebelum akhirnya peluru menghantam kontainer baja di belakangnya dengan suara nyaring.Semua orang membeku.Logan menatapnya dengan mata membelalak, napasnya tercekat. Ia bahkan tidak sempat memahami apa yang baru saja terjadi, karena tubuh Bianca bergerak lebih cepat dari yang bisa diproses oleh akalnya.“Bianca…?”Suara Logan terdengar seperti datang dari tempat yang jauh.Bianca tidak menjawab.Ia berdiri tegak, napasnya stabil, namun matanya berubah. Tatapan itu bukan lagi m
Read more