Mobil Logan berhenti di sebuah halaman rumah yang cukup besar. Tidak lama, pintu utama segera dibuka oleh seorang perempuan paruh baya dengan wajah cemas. “Non Cilla!” serunya, berlari kecil mendekat. “Ya Allah, Non nggak apa-apa?” “Bibi Rani, aku nggak apa-apa kok,” jawab Cilla pelan, masih dalam gendongan Logan. “Tadi jatuh. Tapi Miss Bianca langsung bawa Cilla ke rumah sakit.” Nama itu membuat rahang Logan mengeras. Ia menurunkan Cilla perlahan. “Masuk dulu,” ujarnya singkat. Saat tiba di ruang tamu, Bibi Rani berjongkok memeriksa perban di lutut Cilla. “Sakit nggak, Non?” “Udah nggak terlalu, Bi,” jawab Cilla polos. “Tadi Miss Bianca pegang tangan Cilla waktu disuntik. Jadi nggak takut. Aku seneng banget soalnya ditolong sama Miss Bianca.” Logan berdiri tak jauh dari sana. Setiap kata itu seperti gesekan di dalam dadanya. “Cukup, Cilla,” ucap Logan tiba-tiba. Gadis kecil itu menoleh, bingung. “Mulai sekarang, kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Miss Bianca.” Ruangan i
Read more