Ada banyak sekali potongan yang tiba-tiba kembali.Kantin fakultas yang terlalu ramai, misalnya. Karuna baru saja duduk bersama Nayla, dua piring siomay di depan mereka, saat kursi kosong di ujung meja ditarik seseorang. Ia bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang, tetapi tetap saja, netranya bergerak.Rajendra berdiri di sana dengan nampan makan siangnya.“Boleh duduk?”“Nggak.”“Runa…” panggil Nayla mencubit kulit lengan Karuna pelan.“Apa? Kita duluan ‘kan, di sini? Kenapa harus iyain dia?”Nayla yang baru hendak menyuap langsung menghentikan aktivitasnya. Matanya berpindah dari Karuna ke Rajendra, lalu senyum jahilnya merekah, “Duduk aja, Kak. Lagian kantin umum, temen saya emang lagi sensitif aja–” “Nay!”Oh, kala itu, sedikit banyak Karuna sudah menceritakan hubungan lamanya dengan Rajendra seperti apa kepada Nayla. Meski pada akhirnya Nayla yang terus menggoda Karuna karena baginya, kisah milik teman barunya itu terlalu menggemaskan untuk dilewatkan.“Apa, sih, K
Last Updated : 2026-05-15 Read more