Mereka memasuki sebuah steakhouse. Aroma daging panggang dan sausnya menyugar indra pembau, memenuhi rongga dengan kehangatan yang menggugah selera. Rajendra menuntun langkah Karuna, tungkainya bergerak pelan di samping raganya, sampai di salah satu meja di dekat jendela–menghadap ke arah langit yang sudah mulai terik karena mentari yang naik.Beberapa saat setelahnya, Karuna tak kuasa menghela napas begitu satu-per satu menu itu datang.“Ini tuh cocoknya buat dinner nggak, sih?” tanyanya.Meja mereka tampak penuh.Mulai dari tomahawk steak andalan restoran, creamed spinach yang katanya menu pendamping paling populer, truffle mac & cheese yang menarik perasa Karuna, serta dua gelas jus apel dingin dan menu perintilan lainnya.Rajendra melirik, kemudian mulai memotong daging besar itu menjadi beberapa bagian. “Kamu tidak suka?” tanyanya. “Kita bisa pindah jika iya.”Betapa pandai pria itu bicara sekarang.“Bukan nggak suka.” Karuna masih memegang garpu dan pisau di udara, sementara piri
続きを読む