Langit masih pucat, matahari bahkan belum benar-benar tinggi; arloji menunjukkan jam delapan pagi. Aroma sabun mandi, kopi hangat, serta sisa sarapan yang masih mengepul tipis di atas meja bercampur menjadi satu–semuanya telah rapi. Keberangkatan Marlina dan Winanto untuk kembali ke kota kembang, Bandung; terasa semakin nyata.Rajendra sebenarnya bisa saja mengantar. Bahkan, sejak beberapa saat lalu, pria itu sudah menawarkan diri. Mobil di garasi pun jelas siap dipakai kapan saja.“Saya antar saja, Pi, Mi.”Namun, Winanto yang sedang menyesap teh jahe miliknya lekas menggeleng pelan.“Kamu ada meeting pagi ini, ‘kan, Nak?”Rajendra terdiam sepersekian detik. Sorot matanya berpindah ke atas arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, seperti masih menimbang apakah ia tetap harus bersikeras atau tidak. “Masih ada waktu,” jawabnya. “Lagipula hanya meeting divisi, bisa saya move ke Jeremy sementara.”“Nah, itu nggak boleh.” Winanto tersenyum, sabar seperti biasa. “Nggak usah. Papi s
Last Updated : 2026-04-21 Read more