Perut Karuna sebenarnya tidak benar-benar lapar–seperti hanya meminta sesuatu yang ringan, untuk sekadar pengganjal. Setelah merapikan beberapa hal di kamar, ia turun ke dapur dengan niat sederhana; memanggang roti dan mengolesinya dengan sesuatu yang manis.Namun, begitu ia sampai, pilihannya terbatas. Di atas meja hanya ada selai cokelat, kacang, dan srikaya–ia tidak terlalu menginginkannya. Gadis itu mengerutkan kening, lalu mulai membuka laci satu per satu sampai pandangannya berhenti pada rak kaca paling atas.Selai stroberi, kalengan yang masih baru.Matanya sedikit berbinar.“Tinggi banget, sih…” keluhnya pelan, menengadah.Lantas ujung matanya menangkap bangku kecil di dekat kulkas. Tanpa pikir panjang, ia menariknya, meletakkannya di depan kabinet, lalu naik dengan hati-hati. Ujung jarinya berusaha meraih, tetapi, tetaplah kurang. Ia berjinjit, bahkan melompat kecil beberapa kali, tubuhnya terangkat turun dengan gerakan yang mulai tidak stabil.Tanpa Karuna sadari, ada seseora
Last Updated : 2026-04-07 Read more