“Oi, malah bengong lo!” cibir Beno seraya memajukan tangan, menepuk keras paha Jaka. “Eh, enggak… a-anu, eum…” Jaka gagap, lidahnya mendadak kelu untuk merangkai alasan buatan. Melihat ekspresi Jaka yang tampak canggung dan kebingungan, Beno yang sudah bersahabat sejak masa kecil langsung membaca ada kebohongan besar yang sedang disembunyikan. “Anjir! Jangan bilang lo mau balik ke Desa Merpati hari ini? Terus enggak ngajak-ngajak gue!” tebak Beno spontan, matanya mendelik penuh curiga. “Eh, bukan, Ben… bukan ke sana…” “Lah, terus kenapa muka lo gugup begitu?” Beno memicingkan matanya rapat-rapat, menatap paras Jaka penuh telisik tajam. “Udah jujur aja lo! Dari seberang jalan juga kelihatan kalau lo lagi bohong. Gagap begitu!” Jaka menarik napas panjang dan dalam, membiarkan udara pagi mengisi paru-parunya. Ia berpikir tak ada gunanya lagi menyembunyikan masalah gila ini dari Beno. Lagi pula, kedatangan Beno yang mendadak akibat firasat buruk mempertegas bahwa ikatan batin antars
Read more